Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

Bahagia Itu Sesederhana...

Pernahkah kita melihat orang kaya tapi selalu saja mengeluh? punya rumah mewah, mobil bagus, beberapa butik dan suami yang punya pekerjaan mapan? tapi selalu was-was saat mobilnya parkir atau masuk garasi. Takut di ambil orang, takut lecet dan bla bla bla sebagainya. Takut butiknya di bobol maling. Takut rumahnya di congkel saat sedang tidak di rumah. Lalu untuk semua itu mereka mencari satpam terbaik dan membayarnya mahal untuk menjaga harta kekayaannya.

Bunda, Pulanglah... Aku Rindu....

Sebut saja namanya Sari, dia menikah dengan seorang lelaki yang tampan dan berhati baik bak malaikat. Dia mempunyai seorang anak dari pernikahannya itu. Hati malaikat dari sang suami tiba-tiba berubah menjadi petaka. Perpisahan itu terjadi di awal pernikahan karena sifat sadisme yang dimiliki suami dalam berhubungan. Perjuangannya  dalam melawan rasa sakit karena perpisahan itu sangatlah panjang dan berat. Dia melalui semua cobaan, dimulai saat dia hamil tanpa didampingi suaminya, melahirkan, dan merawat sendiri buah hatinya. Lalu atas tuntutan dari hatinya sendiri untuk tidak ingin menggantungkan hidup dengan orangtuanya. Dia terpaksa pergi meninggalkan anaknya yang masih kuat menyusu karena baru berumur delapan bulan untuk bekerja di luar kota. Dan menitipkan anaknya pada sang nenek.

Suamiku, Dulu Kau Memilihku, Kini...

Ada banyak suami yang tidak bertanggungjawab. Tidak memberi perhatian dan kasih sayang juga tidak sedikit yang meninggalkan sang anak tanpa dinafkahi sedikitpun. Meninggalkan anak dan istrinya hanya untuk menuruti ego dan ambisinya. Padahal apalah kesalahan  seorang anak? dia tak pernah minta dilahirkan ke dunia. Dia juga tidak pernah minta dilahirkan dari benihmu. Tapi dia dititipkan oleh Allah ke dalam rahim istrimu agar kau jaga dan lindungi, sayangi sepenuh hatimu. Sebagai wujud kau mampu mengemban amanah yang di titipkan padamu. Dan ketika istrimu mengandung bagian dari dirimu, mengandung dalam keadaan yang sulit dan semakin sulit, Pantaskah kau sia-siakan?

cerpen "Surat Cinta Untuk Ayah"

Surat Cinta Untuk Ayah… Namaku Rifky, umurku 10 tahun, aku bersekolah di salah satu sekolah swasta di kotaku. Aku tinggal bersama ibu, kakek dan nenek. Di belakang rumahku ada sebuah sungai besar dan airnya jernih. Masyarakat  di sini masih ada yang mandi dan mencuci  di sungai meski sudah ada PDAM. Teman-teman sebayaku juga banyak yg mandi sambil bermain di sungai. Hanya ibuku saja yang selalu melarangku untuk tidak main di sungai. Takut hanyut katanya, maklumlah aku adalah satu-satunya anak ibu. Sehari-hari ibu bekerja  membantu nenek menjual makanan. Karena kakekku sudah tidak bekerja lagi dan sekarang lagi sakit. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, kami dibantu oleh paman, adik Ibuku.