Langsung ke konten utama

Suamiku, Dulu Kau Memilihku, Kini...

bp.blogspot.com
Ada banyak suami yang tidak bertanggungjawab. Tidak memberi perhatian dan kasih sayang juga tidak sedikit yang meninggalkan sang anak tanpa dinafkahi sedikitpun. Meninggalkan anak dan istrinya hanya untuk menuruti ego dan ambisinya. Padahal apalah kesalahan  seorang anak? dia tak pernah minta dilahirkan ke dunia. Dia juga tidak pernah minta dilahirkan dari benihmu. Tapi dia dititipkan oleh Allah ke dalam rahim istrimu agar kau jaga dan lindungi, sayangi sepenuh hatimu. Sebagai wujud kau mampu mengemban amanah yang di titipkan padamu. Dan ketika istrimu mengandung bagian dari dirimu, mengandung dalam keadaan yang sulit dan semakin sulit, Pantaskah kau sia-siakan?

Apa alasannya kau membenci istrimu, bukankah kau yang dulu memilihnya dari beribu bahkan berjuta wanita cantik di luar sana? dia yang juga melabuhkan hatinya padamu sementara ada banyak lelaki yang juga sangat mengharapkannya. Dia yang harus memutuskan hubungan dengan seseorang demi menerima lamaranmu. Bahkan mungkin lelaki yang ditolaknya itu lebih baik darimu tapi dia mau menerimamu dengan segala kekuranganmu. Tidakkah tersentuh hatimu saat melihat perut istrimu yang semakin membesar, Nafasnya yang sesak karena menopang tubuhnya yang semakin berat. Dia yang kehilangan nafsu makan karena mual dan muntah yang mendera. Dia yang berkali-kali pingsan saat tubuhnya lemas karena kurang asupan kalori. Istrimu tetaplah wanita biasa yang juga punya banyak kesalahan dan kekurangan sama sepertimu yang juga tidak sempurna bahkan lebih sering menyakiti hati istrimu. 

lalu kenapa di saat kamu sering menyakitinya, istrimu masih mampu tersenyum membuatkan sarapanmu, Mendahulukan rasa laparmu karena gajimu hanya cukup membeli sebutir telur. Kaupun tidak berniat membagi sebutir telur itu pada istrimu? kau masih saja lahap makan dengan telur dadar sedangkan istrimu masih duduk di depanmu, menatapmu sambil menikmati sesuap demi sesuap nasi yang kau masukkan ke mulutmu sambil sesekali menelan ludah karena sejujurnya istrimu juga lapar. Lapar yang dia tahan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk janin di dalam kandungannya. Apakah kau memikirkan itu? tidak! kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau bertanya dengan entengnya di ujung suapmu kenapa dia tidak makan? sudah kenyang jawabnya.

Dia masih mau mengantarmu ke depan pintu, mencium tanganmu, mendoakan kepergianmu agar kau selamat selama bekerja dan mendapatkan rejeki yang halal. Dan selama dia di rumah, dia melakukan tugasnya sebagai istri, mencuci dan menyetrika pakaianmu, mengurus rumahmu, memenuhi segala kebutuhanmu. Bahkan semua dia lakukan tanpa kau beri upah yang layak.

lalu di saat istrimu butuh pertolongan, bantuan akan sesuatu yang dia tidak mampu lakukan, kenapa kau merasa bahwa istrimu sedang tidak mentaatimu, kau merasa istrimu telah durhaka padamu, karena telah berani memerintah suami dan melawan pada suami. Saat istrimu menasehatimu agar kau berhati-hati agar kau tidak terpuruk dalam bisnismu, agar bisnismu tetap lancar, memberimu saran bahwa keputusanmu itu belum tepat. Kau marah seolah kata-katanya tak ada artinya bagimu. Padahal istrimu benar-benar tidak ingin kau menderita dan salah dalam melangkah. 

Apakah seorang istri tak boleh mengeluarkan pendapat?

Dan disaat kondisimu benar-benar jatuh, kau menyalahkannya, sebagai istri yang terlalu banyak menuntut, istri yang tahunya hanya ngomel dan mencerewetimu. Padahal cerewetnya itu demi kebaikanmu. Saat kau bena-benar tak mampu menyelesaikan masalahmu, kau memutuskan untuk lari meninggalkannya tanpa pemikiran yang matang. Meninggalkannya dalam keadaan hamil tua. Sebegitu besarkah kesalahannya sehingga harus menerima kenyataan pahit ini? lalu adakah manusia di atas bumi ini yang tidak punya salah?

Dan saat kelahiran, kau tak datang untuk sekedar memberi dukungan. Kau tak datang hanya untuk sekedar mencium darah dagingmu, memeluknya, atau sekedar menggendong putri kecilmu. Bukan uangmu yang dimintanya, bukan! tapi perhatian dan kasih sayang juga pedulimu. Bukan untuk dirinya tapi untuk buah hatinya. Lalu apa salahnya? kau lebih memilih pergi menuruti egomu yang menggunung.

Lalu di saat anakmu sudah mulai besar dan lucu kau mengambil paksa darinya.
Dimana hatimu? terbuat dari apakah hatimu? Di saat istrimu membela mempertahankan anak yang sudah dia rawat dari dalam kandungan dan dibesarkan sendirian, kau pergi begitu saja, Lepas tangan dengan konsekwensi tak kau beri nafkah anak karena anak dirawat oleh istrimu.

Apapun alasannya kau meninggalkan istrimu, anak tetaplah anak yang sudah menjadi tanggungjawabmu dunia akhirat. Tak mengapa kau pergi, tak mengapa kau tak menafkahi, tak mengapa kau merasa masa bodoh, Dia adalah seorang ibu yang tetap dan akan selalu berjuang mendidik dan membesarkan anakmu hingga jiwanya terlepas dari raga. Demi masa depan buah hatimu.

Dia tidak akan pernah mengajarkan anakmu untuk membenci ataupun dendam padamu. Karena bagaimanapun kau tetap ayahnya. Bahkan suatu saat nanti putri kecilmu ini yang akan merawat masa tuamu dengan penuh kehangatan. Dalam hati si istri berkata "suamiku, dulu kau memilihku, kini..."

Ini hanyalah sepenggal kisah yang kudapat hari ini, Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya. Buat para suami, hargailah istrimu, sayangi anakmu,  Buat para istri tetaplah berjuang membesarkan anak-anakmu, berjuang bersama suami dalam suka dan duka. Tetap santun dan hormat pada suami, saling introspeksi ke dalam diri masing-masing, Mengakui kesalahan dan memperbaikinya bersama. Buat para 'singlemom' jangan takut anakmu tidak makan. Jangan takut anakmu terlantar. Selagi mau berusaha pasti ada jalan. Karena Allah sudah menjamin rezeki anakmu. Allah itu mencukupkan kebutuhan umatnya bukan mencukupkan keinginan kita. Kita hidup hanya sementara untuk memainkan peran yang sudah terskenario dengan rapi. Sabar, tawakal dan qonaah dalam menjalaninya. Mudah-mudahan kita bisa mendapat ridho Allah SWT. Aamiin...



puji saputri 26 okt 2016   



Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.