Langsung ke konten utama

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

konsultasisyariah.com
Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.


Dulu di jaman Nabi, ada seorang suami yang pergi berperang dan berpesan pada istrinya untuk tidak meninggalkan rumah sampai ia kembali berperang apapun alasannya. Kemudian datanglah seorang lelaki yang mengabarkan bahwa ayah dari si istri ini sakit. Karena istri ini patuh pada suaminya, istri ini tidak bisa meninggalkan rumah karena tak ingin melanggar perintah suaminya. Kali kedua, lelaki tadi datang lagi mengabarkan ayahnya sakit keras. Si istri tetap tidak bisa menemui ayahnya karena taat pada perintah suaminya. Kali ketiga saat lelaki datang mengabarkan ayahnya telah meninggal si istri tetap tidak bisa datang ke rumah orangtuanya sekedar untuk melihat ayahnya untuk terakhir kali. Dengan agak kesal lelaki tadi kembali ke rumah ayah si istri. Saat Nabi kembali dari perang, lelaki tadi bertanya pada Nabi tentang perlakuan si istri yang tak mau menjenguk ayahnya yang sakit sampai meninggal. Mendengar cerita lelaki itu, Nabi berkata "Dengan ketaatan anaknya pada suaminya itu maka dia telah menempatkan ayahnya di surga" Kemudian dipanggillah suami dari istri tadi dan Nabi bertanya "Betulkah kamu begini dan begini?" Si suami membenarkan. Lalu Nabi berkata "Janganlah kau pisahkan istrimu dari orangtuanya karena istrimu tidak lahir dari belahan batu"   Begitu isi ceramah Mamah Dedeh beberapa waktu yang lalu di salah satu stasiun tv swasta.

Benar jika istri harus patuh pada suami, namun tidaklah benar jika suami melarang atau memutuskan silaturahmi istri dengan orangtuanya. Namun banyak kita melihat para suami yang melarang dan membatasi istrinya untuk bertemu dengan orangtuanya. Alasannya "Kamu sudah kunikahi maka kamu sudah menjadi tanggungjawabku sepenuhnya karena ayahmu sudah menyerahkanmu padaku melalui ijab qabul. Kalau orangtuamu keberatan kamu saya bawa ya nggak usah menikah denganku dan biar saja kamu jadi perawan tua dan selamanya bisa mengurus orangtuamu."

Istri yang baik adalah istri yang patuh dan taat pada suaminya dan suami yang baik adalah suami yang membiarkan istrinya untuk berbakti pada orangtuanya. Bukankah senang punya istri yang solehah dan bisa mengurus serta  memuliakan orangtuanya yang sudah tua?

Namun ada suami yang merasa punya hak penuh terhadap istri sehingga keberatan jika istri masih menjalin silaturahmi pada keluarga atau orangtuanya. Yang dia tahu hanya pengabdian istri pada dirinya nya dan orangtuanya saja (mertua istri). Merasa sebagai pemimpin dan istri harus patuh dan taat apapun perintahnya. Begitu menikah langsung merasa bahwa orangtua istri tidak punya hak apa-apa terhadap istrinya. Langsung memboyong dan membawa istri tanpa basa-basi pada orangtuanya sehingga terkesan suami menjadi tak menghargai orangtua dari istrinya. Hei, ingatlah tanpa orangtua yang kau anggap tak berguna itu istrimu takkan lahir ke dunia. Begitukah caramu menghargai mertuamu?

Di depan rumah, saya melihat ada seorang perempuan paruh baya yang baru beberapa hari ini datang dari kampung. Dan menginap di rumah tetangga saya. Awalnya saya tidak terlalu mempedulikan siapa perempuan itu. Namun gelagat dan bahasa tubuh yang ditunjukkan perempuan itu membuat saya penasaran dan bertanya. Perempuan itu sering berdiri di tengah jalan sambil memandang jauh ke depan seperti sedang menunggu seseorang. Kadang dia berjalan terus tak tentu arah seperti sedang mencari seseorang. Pandangannya kosong, tak fokus bila diajak bicara.

Setelah saya bertanya pada keluarganya, ternyata perempuan itu mengalami goncangan jiwa/gila karena tidak pernah bertemu dengan anak perempuannya sejak mulai menikah sampai bertahun-tahun lamanya. Mereka sudah mencari kemana-mana tapi tidak tahu dimana anaknya itu sekarang berada. Perempuan itu sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa di daerah saya. Pengakuan dari keluarga, ibu itu sudah mengalami banyak kemajuan semenjak berobat, biasanya dulu sering bicara sendiri menyebut-nyebut nama anaknya. Saya menitikkan air mata saat melihat ibu itu hilir mudik di tengah jalan seperti sedang menunggu seseorang tapi tak kunjung datang. Keluarga juga sering mengajak dan membujuk masuk ke rumah karena sepanjang hari ibu itu hanya berdiri di tengah jalan. Ibu itu tetap kekeh tak mau masuk ke rumah. Dia menunjuk-menunjuk seolah memberi isyarat bahwa anaknya sebentar lagi pulang. Kasihan sekali... Tak tega rasanya saya memandang wajah perempuan yang tampak lelah dan sayu itu. Saya terharu karena saya juga pernah mengalami hidup terpisah jauh dengan anak. Saya tahu bagaimana rasa rindu yang ibu itu rasakan karena sangat merindukan anaknya.

Buat para suami, Jika kalian sudah menikahi seorang perempuan, jangan pisahkan dia dari orangtuanya. Tak tahukah kalian besarnya rasa rindu yang ditanggung orangtuanya? Besarnya harapan orangtuanya untuk melihat, bertemu, memeluk dan berbagi cerita dengan anak yang selama ini disayanginya? Istrimu memang milikmu tapi istrimu juga punya orangtua. Tanpa orangtuanya istrimu takkan pernah lahir ke dunia. Biarkanlah istrimu tetap menjalin silaturahmi dengan orangtuanya. Biarkan istrimu mengunjungi orangtuanya. Biarkan istrimu merawat dan mengurus orangtuanya. Bukankah mertuamu juga orangtuamu? Memuliakan mertuamu sama dengan memuliakan orangtuamu. Ada mantan istri ada mantan suami tapi tak ada yang namanya mantan anak.

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari perbuatan zolim.


puji saputri

 

Komentar

  1. Salah tidak klw kita lebih mengurus orang tua yg sakit dr pada suami

    BalasHapus
  2. Salah tidak klw kita lebih mengurus orang tua yg sakit dr pada suami

    BalasHapus

Posting Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.