Langsung ke konten utama

Kebiasaan Baik Yang Kini Mulai Saya Tinggalkan

beritaqar.id
Dulu, ketika remaja saya paling rajin membersihkan rumah. Mulai dari kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Semua tidak luput dari perhatian saya, mulai dari kaca, loteng, lantai sampai perabotnya. Ketika sekolah, saya hanya bisa membantu ibu mencuci piring dan membersihkan rumah sepulang sekolah. Hari Minggu merupakan hari bersih-bersih, star dari pagi sampai siang, istirahat sebentar lalu menyetrika dan malamnya baru bisa duduk manis. Ya, gimana lagi, memang begitu ajaran ibu saya, "Jadi anak perempuan itu jangan keset/pemalas" Maklumlah kami juga tidak punya asisten rumah tangga. Jadi semua dikerjakan sendiri. Apalagi saya adalah anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Kalau bukan saya yang melakukan siapa lagi, kakak dan adik saya mana mau membantu. Mereka hanya bermain di luar bersama teman-temannya.



Dari situ saya tumbuh jadi anak yang perfeksionis, Melihat apapun yang berantakan, saya langsung ingin membereskannya karena mata dan hati saya tidak nyaman berada di rumah dan melihat sesuatu yang berantakan. Sampai-sampai ada keponakan saya yang main ke rumah saya, ngomong gini ke ibunya "Kamar dan rumah bunda nggak serapi kamar Tante Puji ya, bedak bunda juga berantakan di atas meja, nggak kayak bedak Tante Puji yang tersusun rapi." Dengan sedikit malu si ibu memberi alasan "Kan Bunda sibuk sayang, nggak sempat ngurusin meja, rumah, ngurusin kamu aja bunda udah capek, beda sama Tante Puji yang punya banyak waktu untuk beresin ini itu, apalagi Tante Puji belum punya anak."

Memang saya terbiasa untuk mengambil apapun dan menaruh kembali di tempatnya semula. Lagipula kalau rumah bersih, kamar bersih kita juga sehat. Hati juga nyaman dan senang berada di rumah. Bukankah rumahku adalah istanaku.

Sekilas memang pada umumnya orang beranggapan bahwa hanya perempuan single yang punya banyak waktu untuk melakukan bersih-bersih rumah. Sehingga wajar jika rumah tampak rapi dan bersih jika ada anak gadis di dalamnya. Beda dengan perempuan yang sudah menikah apalagi sudah punya anak banyak. Jangankan untuk beresin rumah, untuk sekedar duduk atau berbaring lima menit saja rasanya sangat sulit. Lalu bagaimana jika rumah tetap berantakan dan kotor meski ada anak gadis di dalamnya?

Saya waktu itu juga tidak terima ketika seorang perempuan tidak bisa membereskan rumah. Ketika main ke rumah teman saya yang punya anak 5 orang. Rumahnya berantakan, untuk duduk selonjor saja rasanya tak ada tempat yang kosong. Saya mikirnya gini "Si ibuk nih ngapain aja di rumah, kok rumahnya berantakan kayak gini? Bukankah tugas perempuan itu ngurusin rumah?"

Tapi sekarang saya jadi tahu, setelah menikah dan punya anak, untuk mencari waktu untuk diri sendiri itu sangat susah. Dulu melihat rumah beres dan bersih itu suatu keharusan, kini melihat anak bahagia bermain di rumah menjadi keutamaan bagi kebahagiaan saya dan anak. Alhasil rumah jadi berantakan, semua berserakan. Saya juga berjuang melawan perasaan perfeksionis yang selama ini mendarah daging. Ketika melihat mainan berserakan, saya tarik nafas dalam-dalam dan tanamkan dalam hati, "Bermain adalah melatih kecerdasan anak. Nggak apa-apalah berantakan asal anak saya pintar."

Atau ketika melihat pakaian belum sempat disetrika karena sudah sibuk nemenin anak main dan ngurusin ini itu, dan tingginya sudah menggunung, saya tarik nafas dalam-dalam, saya peluk tumpukan pakaian itu dan menikmati aroma softener yang melekat pada pakaian yang segunung, tanamkan dalam hati "sabar ya, saya belum sempat menyentuhmu"

Atau ketika saya melihat dapur berantakan dan remah makanan yang berserakan, karena anak ikut menabur tepung, mengupas bawang yang kulitnya bertebangan kemana-mana karena dia berlari kesana kemari, ikut menabur garam dan gula juga ikut mencuci sayuran. Mau marah gimana, itu kesempatannya untuk bereksplorasi dan mematangkan sel otaknya.

Eits... jangan berfikir saya segampang itu melawan gejolak batin saya yang perfeksionis, dulu saya selalu uring-uringan dan jengkel tiap kali melihat rumah berantakan. Baru diberesin udah berantakan lagi, hati saya selalu tak tenang dan terbebani oleh pikiran saya sendiri yang seharusnya bukanlah beban berat. Akhirnya saya mencoba menenangkan hati saya di masa transisi itu. Kalau dulu saya berusaha menata rumah serapi mungkin kini saya berusaha menata hati saya. Karena kalau bukan saya yang berusaha untuk menata hati saya sendiri lalu siapa? lalu kapan saya akan bahagia jika hati saya dipenuhi oleh emosi demi emosi. Yang ada saya yang rugi karena tak dapat menikmati moment bahagia bersama keluarga, gimana mau bahagia, lha wong hatinya gondok terus. Mood saya jadi jelek terus. 

Menjadi perfeksionis itu baik, tapi terlalu perfeksionis juga nggak baik, karena nyesek terus di dada ketika melihat sesuatu yang tidak berkenan.

Kini, saya yang si perfeksionis itu sudah berubah menjadi apa adanya. Dulu paling pantang melihat sprei kusut sedikit saja, saya tidak terima. Kini, kasur berantakan saya malah berbaring menikmati seprainya yang kusut sambil memandang langit-langit kamar. Lantai berantakan, dapur berantakan, biar aja, namanya juga punya anak kecil. Kalau nggak berantakan kapan anak belajar bereksplorasi, kapan juga saya belajar sabar. Sabar ini yang penting, karena kalau diperturutkan kata hati, saya bisa jadi monster yang mengerikan. Dan saya nggak mau menghabiskan energi saya hanya untuk marah-marah. Karena hanya begitu caranya agar saya tidak stres. Berantakan tak mengapa asal tidak kotor. Karena kebersihan itu sebagian dari iman.

Ada beberapa hal yang harus tetap diusahakan dan dilakukan. Meskipun sulit tapi setidaknya perlu menanamkan kedisiplinan dan kerapian pada anak sedari kecil, misal : 
  1. Menaruh piring bekas makan ke bak cuci piring, kalau anak cukup besar, saya minta untuk mencuci piring bekas makannya sendiri.
  2. Merapikan mainannya sendiri. Jika anak ingin memainkan mainan dokter-dokteran, maka mainan masak-masakan yang sedang dimainkannya harus dibereskannya dulu. Jika ingin baca buku, maka mainan dokternya di masukkan kotak dulu. Saya displinkan untuk main satu-satu.
  3. Jika adik main sama kakak, saya minta tolong si kakak untuk ikut bantu adik membereskan mainannya sendiri.
  4. Saya tak pernah cuek untuk hal kamar mandi, karena kalau kamar mandi licin, resiko keluarga juga tinggi.
  5. Mengepel ketika anak sudah tidur. Karena kalau lantai tidak dipel, maka anak juga tidak nyaman main di lantai.
  6. Merapikan kamar tidurnya sendiri meski tidak sesempurna yang saya inginkan, setidaknya dia belajar merapikan.. Merapikan buku pelajarannya. Anak yang sudah besar saya kasih tanggungjawab untuk dirinya sendiri.
  7. Mendisiplinkan tempat bermain. Jika anak bermain pasir atau tanah maka tidak boleh masuk ke rumah sebelum membersihkan diri. harus lewat pintu belakang. Karena untuk menjaga agar rumah tidak terkena najis atau kotoran.
Soal pakaian kotor, dapur barantakan, pakaian bersih yang sudah segunung mengantri untuk disetrika, saya kerjakan bila benar-benar hati saya senang mengerjakannya dan tidak merasa terbebani. Jika bisa saya kerjakan, ya saya kerjakan semampu saya, jika tidak ya... bersabar. Karena bukankah setiap apapun yang kita kerjakan di dalam rumah itu dihitung amal ibadah. Bagaimana mungkin bisa mengumpulkan amal ibadah jika hati tidak ikhlas melakukannya. Jadi saya meski ikhlas dulu, lapangkan dada, bebaskan fikiran, tatap senyuman anak-anak, peluk mereka dan tersenyumlah...

Dan ada saatnya saya merindukan sebuah kerapian dan kebersihan secara total. Tapi setidaknya saya lakukan itu di saat hati saya senang. Mungkin itulah kebiasaan baik yang kini mulai saya tinggalkan. Dan suatu hari nanti, saat anak-anak saya sudah dewasa setidaknya anak saya sudah belajar disiplin, kerapian dan kebersihan yang saya ajarkan dari kecil. Kelak dia juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Karena kini anak-anak saya masih kecil, ini adalah masanya untuk anak bermain. Nanti ketika mereka tumbuh dewasa anak pasti tahu dan semakin mengerti apalagi jika kita terus mendidik dan mengajarkan kedisiplinan dan kebersihan.  


puji saputri.

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.