Langsung ke konten utama

Ibu, Bapak, Sudah Saatnya Kalian Bahagia

lihatdulu.info
Sebagai anak, kita pasti ingin membahagiakan dan membanggakan orangtua. Kita bahkan sampai berlomba-lomba untuk menjadi terbaik di mata orangtua. Berusaha menjadi seperti apa yang orangtua kita mau. Karena melihat orangtua kita tersenyum atas keberhasilan, kesuksesan kita, apalagi jika orangtua turut menikmati cipratan rejeki dari usaha kita. Rasanya... kita sudah bisa membanggakan orangtua. 

Tapi ada sebuah cerita nyata dimana sepasang suami istri yang berusia 60 tahun. Sampai keluar sebuah ucapan "Kita merawat dan membesarkan anak-anak kita dari kecil hingga dewasa dengan ikhlas, berharap suatu hari nanti mereka akan bahagia dan sukses. Kita selalu doakan agar mereka berhasil karena kalau hidup mereka nanti susah, kita juga ikut susah. Tapi setelah anak berhasil kita malah diperlakukan seperti pembantu"

Mungkin sebagian dari kita tidak pernah merasa, tidak menduga atau mungkin tak percaya jika ada orangtua yang seperti itu. Atau tidak percaya jika ada anak yang tega memperlakukan orangtuanya seperti itu. Tapi kenyataannya, sekarang banyak kita melihat para anak yang terbilang sukses dan berhasil dalam karir justru membabukan orangtuanya sendiri. Mending orangtua ikut merasakan kemewahan hidup dengan bergelimang harta, justru sebaliknya orangtuanya diperlakukan dengan sangat tidak wajar. Miris bukan?

Saya ada contoh, sepasang orangtua yang memiliki tiga orang anak. Semua anak mereka sukses, anak pertama menjadi seorang dokter dan menjadi kepala rumah sakit ternama di daerah saya. Anak kedua sudah PNS dan anak ketiga juga PNS. Mereka semua sudah menikah dan mempunyai kehidupan yang mapan dengan suami dan istri yang mapan dan beberapa orang anak yang lucu dan pintar.

Ironisnya, kedua orangtua itu harus berpisah tempat tinggal, sang ibu tinggal bersama anaknya yang bungsu untuk mengurus 2 orang cucu di daerah lain. Sang ayah mengurus 2 orang cucu dari anak pertama dirumahnya yang kebetulan serumah dengan anak pertamanya, bedanya anaknya tinggal di lantai 2 dan sang ayah tinggal di lantai satu. Dan anak kedua yang tinggal di sebelah rumah orangtuanya juga menitipkan 4 orang anak kepada ayahnya jika si anak pergi bekerja. Si ibu bertemu dengan ayahnya dua bulan sekali sampai si ayah merasa rindu pada istrinya, rindu masakan istrinya tapi mau bagaimana mereka harus mengurus cucu-cucu mereka.

Tragisnya lagi, kedua orangtua itu dibayar oleh anaknya sebagaimana menggaji seorang pembantu. Padahal tanpa dibayar sepeserpun kedua orang tua itu pasti ikhlas dan senang bisa mengurus dan membantu merawat cucu-cucunya. Lalu cukupkah uang segitu untuk membalas jasanya? terbayarkah lelah dan letihnya? cucuran keringatnya? derita hatinya karena merindukan suaminya? Salah siapa? Dosa siapa?

Sepintas memang si orangtua dikenal karena telah menciptakan anak-anak yang berhasil dan mapan. Bahkan sering dipuji oleh teman sebayanya yang anak-anaknya tidak seberhasil mereka. Namun sebenarnya orangtua merasa tak bahagia karena terbebani oleh pekerjaan yang dulu sudah pernah dialaminya. Lalu hakikat ingin membuat orangtua bahagia apakah kesampaian? Tidak bukan? Tak jarang orangtua kita menangis dalam kesendiriannya, hanya saja kita tak pernah tahu karena terlalu sibuk memikirkan urusan pekerjaan sehingga mengabaikan perasaan orangtua. Apakah harta dan jabatan itu mampu menghapus air matanya?

Sudahlah, stop membabukan orangtua kita. Jangan lagi membebani mereka dengan rengekan bayi dan kenakalan anak-anak kita. Jangan lagi biarkan mereka begadang semalaman karena mengurus bayi kita yang terpaksa kita titipkan karena dinas malam. Mengurus anak itu melelahkan dan menguras tenaga. Di sisa umur dan tenaga mereka yang sekarang tentu tidak sama dengan tenaga mereka dulu ketika merawat dan mengurusi kita. Lihat... tubuh mereka sudah ringkih, dada mereka sering sesak dan mereka sudah lelah karena mengejar anak-anak kita yang berlarian kesana kemari karena takut tertabrak mobil di gang depan rumah. Bahkan kaki mereka sudah letih tak mampu berjalan tapi berusaha tetap kuat demi anak kita.

Sudah cukup masanya mereka mengurus. Dulu mereka mengurus kita, sekarang mereka mengurus cucu. Lalu kapan mereka pensiun untuk hal yang satu itu? kapan mereka istirahat memanjakan tubuh mereka yang sudah tua? Kapan mereka  bersenang-senang menikmati hidup di penghujung usia?

Hai kalian yang berstatus anak yang kini sedang duduk mentereng dengan dasi, kemeja rapi, blazer mahal dan profesi yang bergengsi. Banggakah kalian dengan kedudukan itu? sementara orangtua kalian babukan. Berapapun rupiah yang kalian hasilkan, takkan mampu membayar setetes ASI yang kalian minum dulu. Lalu kini kalian tambahkan lagi dengan mengurus anak-anak kalian? Ini sebenarnya menjadi tamparan yang keras buat saya. Mengingatkan saya akan kelalaian yang saya lakukan.

Sudahlah, jangan lagi menjadikan orangtua sebagai pembantu. Mereka sekarang rindu rumah yang rapi, tanpa mainan yang berserakan. Mereka rindu tidur pulas tanpa rengekan dan tangisan bayi. Mereka rindu berduaan bersama tanpa dipusingkan oleh kenakalan cucu-cucunya. Meski mereka tak pernah mengatakan keberatan tapi sebagai anak dimana hati nurani kita?

Lebih baik jika kita telah menikah, mandirilah, tinggal di rumah sendiri meskipun sederhana. Lalu datang berkunjung ke rumah mereka dengan membawa cucunya, makanan kesukaannya atau mengajak mereka liburan di daerah yang  mampu memanjakan mata, hati dan pikiran mereka.

Atau jika memang tidak bisa meninggalkan mereka dan terpaksa harus serumah dengan orangtua. Jangan bebankan semua urusan pada mereka. Sewa baby sitter, assisten rumah tangga dan biarkan orangtua hanya mengawasi saja. Karena yang namanya orangtua tak kan bisa duduk bersenang-senang tanpa berbuat apa-apa. Jika mereka berniat untuk memotong rumput yang sudah panjang, biarkan saja, asal jangan menyuruh. Mungkin begitu cara mereka untuk mencari keringat dan bergerak. Karena bagi orangtua hidup kalau hanya ongkang-ongkang kaki malah jadi capek.

Bapak saya yang sudah 60 tahun lebih yang sudah stroke sejak hampir dua tahun. Walaupun stroke tapi Bapak sudah bisa berjalan, hanya badannya agak miring dan berat. Bapak justru senang jika saya membiarkannya membersihkan kebun belakang rumah. Saya pernah melarangnya tapi bapak saya bilang "Stres bapak hilang kalau lagi bersih-bersih dan liat tanaman yang rimbun ini, biarkan ini tetap milik bapak" Sejak itu saya tak pernah melarangnya hanya mengingatkan agar bapak tidak kecapean. Sementara ibu saya mengidap vertigo yang sesekali bisa kambuh kapan saja jika ibu kecapean.

Saya termasuk anak yang durhaka, masih saja membebani orangtua yang seharusnya tidak lagi menjadi bebannya. Saya merasa berdosa tidak bisa membahagiakan mereka di masa tua mereka. Saya tak bisa berbuat banyak untuk melawan kondisi ini. Saya satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara yang bisa mengurus dan menemani orangtua. Karena semua saudara laki-laki saya hidup terpisah dari kami.

Saya yang dipercayakan saudara saya untuk merawat orangtua. Meskipun kenyataannya saya sering membuat mereka tak tenang karena tingkah dan tangisan anak-anak saya. Saya yang kebetulan hidup terpisah dengan suami yang bekerja jauh di luar kota. Saya sering didera dilema, jika saya tinggalkan orangtua yang sakit-sakitan maka saya berdosa. Saya tak ingin menuntut banyak dari saudara laki-laki saya. Tapi saya ingin lebih dulu memprioritaskan diri saya untuk bisa berbakti pada orangtua.

Dalam hati ingin rasanya saya membawa orangtua saya menikmati hidup, berhaji, umroh atau liburan ke tempat yang tenang jauh dari kebisingan. Ya, bener-bener menikmati indahnya dunia. Tapi apa daya, saya belum bisa mewujudkan mimpi itu. Baik materi dan spirituilnya saya belum mampu. Maafkan anakmu ini yang belum bisa berbuat banyak. Hanya mampu berangan "Ibu, Bapak, sudah saatnya kalian bahagia".

Mungkin semua ini tak ada apa-apanya dibanding kan dengan perjuangan mereka ketika dulu merawat dan membesarkan saya anak-anaknya. Tapi hati saya teramat sangat ingin mewujudkan mimpi indah itu bersama. 

Mungkin sekarang kita belum bisa membahagiakan orangtua, tapi setidaknya janganlah menyakiti hati orangtua. Cukuplah menjadi anak yang baik dengan selalu tersenyum, santun  padanya, tidak pernah membentaknya, mendengarkan semua ceritanya, tertawa bersamanya, menghargai masakannya, bersyukur dan berterima kasih padanya yang telah mati-matian membesarkan anak-anaknya. Menjadi anak yang selalu ada setiap kali dibutuhkannya dan yang terpenting selalu mendoakannya di setiap sujud kita, memohon kemuliaannya di sisi Allah SWT.

Semoga kita bisa menjadi anak-anak yang soleh dan solehah sebagaimana kita mengharapkan anak-anak kita nanti juga akan menjadi anak soleh dan solehah. Berbakti pada orangtua dan selalu menyenangkan hatinya.
 
puji saputri

Komentar

  1. Iya bun sebagai anak saya juga suka ngerasa belum bisa ngebahagiain orang tua. Cuma tetep berusaha sebaik mungkin menjadi anak yg berbakti

    BalasHapus
  2. iya bund, kita sama-sama istiqomah dan berusaha terus untuk bisa nyenengin hati orangtua.

    BalasHapus

Posting Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.