Langsung ke konten utama

Jangan Kau Ceraikan Istrimu Jika...

dakwatuna.com
Dalam berumah tangga, cekcok dengan pasangan itu biasa. Malah kalau nggak pernah berantem rasanya kok sepi-sepi aja. Ada juga pasangan yang menjadi semakin romantis dan sayang setelah bertengkar. Ada kalanya pertengkaran itu menjadi bumbu-bumbu cinta ada kalanya pertengkaran itu menjadi bencana dalam rumah tangga. Mau yang mana? semua tergantung pilihan kita.

Dalam pertengkaran, biasanya pasangan saling beradu argumen mulai dari yang ringan sampai yang nyelekit menusuk ke hati. Tapi... ada juga yang berantem dalam diam. Ujung-ujungnya ya dapat punggung kalau lagi tidur. Setiap rumah tangga itu unik dan pasti punya ceritanya masing-masing.


Namun seheboh apapun pertengkaran itu janganlah pasangan mengeluarkan statment yang berakibat fatal. Misalnya, karena emosi suami langsung menceraikan istrinya atau mengucap kata talak, seolah-olah pertengkaran itu tidak bisa dibicarakan lagi, tak ditemukan jalan keluarnya. Padahal jika sedikit saja pasangan sama-sama mau menurunkan ego atau emosinya, pertengkaran itu pasti bisa dicarikan solusinya asal dihadapi dengan kepala dingin.

Beda dengan istri yang walaupun berkali-kali mengatakan cerai jika suami berkata tidak maka tidaklah berarti apa-apa. Tapi jika suami mengatakan cerai sekali saja baik dengan niat atau tidak maka jatuhlah talak padanya. Jika sudah demikian maka timbul penyesalan karena mulut yang kelepasan. Maka sangat baik bila pasangan saling menjaga sikap, perkataan dan berusaha untuk menghindari pertengkaran. Agar tidak menyesal di kemudian hari.

Ada beberapa alasan agar pasangan khususnya suami tidak boleh menceraikan istrinya. Jangan ceraikan istrimu jika :
  1. Istrimu bukan wanita yang mandul.
  2. Istrimu tidak sakit menahun yang menyebabkan dirimu tidak bisa menyalurkan hasrat biologis.
  3. Istrimu tidak suka keluyuran ke luar rumah atau selalu minta ijin suami jika keluar rumah.
  4. Istrimu bukan perempuan yang nakal/pezina.
  5. Istrimu bukan  perempuan yang zolim.
  6. Istrimu bukan perempuan yang kufur.
  7. Istrimu penyayang yang terlihat dari caranya membesarkan anak-anakmu.
  8. Istrimu bukan istri durhaka.
Perbedaan dalam opini itu biasa, menasehati itu wajar, beradu argumen itu normal tapi yang bisa dikatakan luar biasa jika istrimu berbuat sesuatu yang melanggar perintah agama. 

Istri boros, cerewet, jorok, bodoh, pelit, tak pandai masak, istri tak cantik, gemuk, suka ngomel, cerewet dan manja, selama bukan soal prinsip ya jalani saja dengan sabar. Tinggal bagaimana cara suami dan istri menyikapi dan membicarakannya. Bisa dengan menasehati, mengajarkan, mencontohkan, berusaha bersama sampai menerima dengan lapang dada segala kekurangan. Atau bisa dengan memberikan jeda waktu untuk cooling down dulu, nanti setelah suasana hati sudah dingin baru deh dibicarakan baik-baik.

Kan nggak lucu jika seorang suami menceraikan istrinya hanya karena istrinya tak pandai apa-apa, tak mau mengalah atau suka shopping. Bukankah istrimu itu adalah pilihanmu dulu? Jika itu pilihanmu maka terimalah segala kelebihan dan kekurangannya. Jadikan kelemahannya sebagai kelebihanmu, dan jadikan kelebihannya sebagai pelengkap kelemahanmu.

Jika perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk kaum adam, maka setelah menikah, tugas suamilah yang meluruskannya, yang namanya tulang rusuk jika diluruskan dengan paksa maka patahlah ia. Makanya luruskanlah dengan kasih sayang dan kelembutan karena itulah tugasmu sebagai suami. Seorang suami yang hebat bukanlah yang menang atas istrinya tapi suami yang hebat adalah suami yang mampu bersabar menghadapi istrinya.

Buat suami, janganlah sesekali terlintas di dalam pikiranmu untuk menceraikan istrimu. Jangan sesekali menjadikan kata cerai sebagai satu-satunya caramu untuk menyelesaikan pertengkaran. Baik atau buruk istrimu tugasmulah meluruskan dan mendidiknya karena istri adalah tanggungjawabmu. Tentunya didikan yang lembut dan penuh kasih sayang dan bukan didikan yang keras dan menyakitkan.

Buat istri, jangan suka mengancam dan mengeluarkan kata cerai, seolah-olah menantang suami untuk menceraikannya. Karena kalau suami mengiyakannya maka bisa-bisa kita menyesal seumur hidup. Masih mending jika masih talak satu, bisa rujuk lagi, talak dua bisa rujuk lagi namun jika sudah sampai ke talak tiga tentu prosesnya menjadi lebih rumit jika kedua pasangan ingin kembali.

Biasanya penyesalan itu datang ketika masing-masing pasangan sudah sama-sama sendiri dan terpisah jauh dalam waktu yang cukup lama. Setelah mencoba mencari pengganti ternyata tidak menemukan sosok yang seperti pasangan semula. Akhirnya timbul keinginan untuk kembali.

Maka dari itu, sebelum menyesal, pikirkanlah dengan matang sebelum bertindak dan jagalah perkataan sebelum bicara.


puji saputri

Komentar

  1. dalam pertengkaran, yang mengalah tidak berarti kalah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengalah dalam pertengkaran itu sebenarnya kuncinya mbak...

      Hapus
  2. Masih ada gitu yg berantem langsung ngomong cerai.. ada2 aja...

    Kalau saya lebih memilih diam kalau lagi emosi tinggi ...nanti kalau sudah turun baru dech diomingin baik2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyatanya ada yang seperti itu mas, begitulah kalau menikah tanpa bekal moril yang cukup, tidak ada kedewasaan dan belum matang dalam bersikap baik perkataan maupun perbuatan.

      Hapus

Posting Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.