Langsung ke konten utama

Punya Wajah Mirip Orangtua, Selalu bertengkar. Mitos atau fakta?

vemale.com
Punya wajah yang mirip atau hampir mirip dengan wajah orangtua, baik ibu atau ayah mengakibatkan kita selalu bertengkar, benar nggak sih? Saya termasuk anak yang punya wajah mirip sekali dengan ibu saya. Orang-orang selalu mengatakan bahwa saya adalah fotokopi ibu. Apalagi jika bertemu dengan teman lama ibu, mereka selalu bilang "Kamu mirip sekali ya, persis seperti waktu ibumu masih gadis dulu."


Memang sih, saat bercermin saya selalu melihat wajah ibu karena kami benar-benar mirip. Mungkin karena itu juga semenjak kecil saya selalu berbeda pendapat dengan ibu. Selalu saja ada bahan pertengkaran yang membuat saya tidak sependapat dengan ibu, begitupun sebaliknya. Mulai dari hal sepele sampai hal yang besar. Meskipun saya juga bukan anak kesayangan ayah tetap saja kecekcokan dengan ibu lebih mendominasi. Ketika saya bilang tidak, ibu bilang iya, padahal saya bilang tidak karena berusaha untuk memperkecil kemungkinan bertengkar karena dulunya ibu juga pernah memutuskan kata tidak untuk masalah yang serupa.

Padahal orangtua itu harusnya menjadi sosok yang paling dekat dengan anaknya. Kemana lagi anak akan mengadu kalau bukan pada orangtuanya. Tapi ternyata tidak semua anak bisa merasakan kedekatan dengan orangtua atau ibu mereka. Ada saja pertengkaran yang terjadi setiap hari dengan berbagai alasan.

Sebagai anak, saya diajarkan untuk selalu patuh dan taat pada orangtua. Jangankan melawan, berkata "ah" saja tidak boleh. Tidak ingin rasanya dicap sebagai anak durhaka tapi mau berkata apa lagi beliaulahlah orangtua yang telah mengandung, melahirkan dan merawat saya dari kecil dengan susah payah. Bahkan segala pengorbanannya itu tidak akan dapat terbalas oleh apapun.

Saya pernah ditegur oleh ibu-ibu yang sudah tua sewaktu ketemu di jalan. Kebetulan dia juga kenal dengan ibu saya, katanya "Kamu mirip sekali dengan ibumu, apa kalian tidak pernah bertengkar?" saya hanya tersenyum dan dia menyambung kalimatnya "Tapi kalau anak soleh tidak akan pernah melawan ibunya" Dia menepuk pundak saya kemudian pergi.

Padahal ketika setiap apa yang keluar dari mulut saya selalu dianggap salah. Saya memilih menahan kesal di dalam dada. Ketika saya tahu bahwa saya salah, saya juga tahu sikap mereka juga salah. Saya kadang merasa bahwa hidup ini tidak adil, ketika saya dibentak kenapa saya tidak boleh membentak balik? Dan saya hanya memilih diam. Bahkan ketika saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki semua tapi tetap saja salah dimata mereka. Tidak merubah keadaan dan masih saja sama. Memang benar kesuksesan seorang anak itu terletak pada ridho orangtua. Karena doa orangtua itulah yang mengiringi langkah anaknya. Bukannya doa yang didapat tapi hanya sumpah serapah yang keluar mengiringi langkah kaki anaknya. Lalu bagaimana bisa sukses jika masih saja bertengkar dengan mereka?.

Ingin rasanya untuk mengakhiri pertengkaran itu tapi bagaimana caranya? Sesaat setelah bertengkar, di sebuah keheningan,  saya merasa tidak punya tempat untuk pulang, untuk berkeluh kesah atau sekadar menyandarkan kepala saya di bahu mereka. Saya hanya bisa iri melihat teman-teman atau orang lain bisa sedemikian dekat dan akrab dengan ibu mereka. Ingin rasanya saya menjadi anak mereka dan menjadi bagian dari keluarga bahagia itu. Mereka hidup dengan penuh kasih sayang. Mereka bisa, kenapa saya tidak? Apa yang tidak bisa saya penuhi untuk mendapat kasih sayang itu? Jika diingat-ingat rentetan peristiwanya, rasanya sangat sulit untuk memaafkan kesalahan yang sudah menumpuk entah sejak kapan. Sering dikatain anak durhaka, tapi bukankah juga ada orangtua yang durhaka? Meskipun sudah mampu hidup sendiri, tapi jauh di dalam hati saya sangat ingin berbaikan dengan mereka. 

Sesalah apapun orangtua, saya hanya bisa diam, mengunci pintu kamar, menyetel musik kesukaan, atau mengaji, meskipun tak jarang berurai air mata. Saya memilih menerima segala tuduhan yang dilemparkan pada saya, sembari berdoa agar diberikan kesabaran yang tak terhingga. Karena mengemukakan pendapat atau menjelaskan kebenaran hanya akan semakin memperpanjang pertengkaran. Sampai kapan semua ini akan berakhir? Ketika saya mengintrospeksi diri sendiri, mungkin cara berkomunikasi kami yang salah, sehingga selalu timbul salah paham. Saya maunya begini ibu maunya begitu, saya bilang iya ibu bilang tidak. Saya bilang tidak, ibu bilang iya. Pernah sih diadakan diskusi dalam keluarga untuk dicarikan solusi, tidak bertahan lama, eh kembali lagi seperti biasa. Ujung-ujungnya, sebagai anak ya harus ngalah, mau bagaimanapun beliau tetaplah ibu yang harus dipatuhi bahkan 3x melebihi ayah.

Mitos sering bertengkar karena kemiripan wajah dengan orangtua itu mungkin ada benarnya. Karena bukan hanya saya, banyak saya melihat orang yang wajahnya mirip cenderung selalu bertengkar. Ntah itu antara ibu dan anak, ayah dan anak, saudara (kecuali kembar). Tapi di daerah saya tinggal, ada tradisi jual anak, mungkin lebih tepatnya menggadaikan anak. Dibelinya sih tidak mahal-mahal, bisa dengan uang Rp.5000.-, bisa dengan sebuah gelas minuman, atau apa saja seikhlasnya. Dan nanti ditebus ketika si anak akan menikah. Karena mungkin mereka percaya, menjual/menggadaikan anak yang mirip dengan orangtua kepada saudara bukan kandung bisa menggugurkan mitos itu. Jadi si anak dan orangtuanya tidak bertengkar lagi. 

"Hmmmm.... mungkin ibu saya lupa menjual saya ketika kecil dulu."

Komentar

  1. wah saya baru tahu tuh tradisi menjual anak, wah aku malah gak tahu kalau wajah mirp itu sering bertengkar ya. Kayaknay komunikasi hrs dilancarkan dg bahasa ya lebih baik sebagai sahabat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, sepupu saya jual anak lelakinya ke ibu saya lantaran anaknya mirip sekali dengan bapaknya. katanya selalu berantem trs, skrg udah nggak hihi... bnr apa nggaknya sih sy kurang tau, hehe...

      Hapus
  2. fakta buatku he he...aku sering bertengkar ma ibuku ...dulu sihh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. baguslah mbak udh baikan, seiring berjalannya waktu mungkin saya juga bisa berdamai dengan orangtua. :)

      Hapus
  3. mitos sih kak, hehehehe soalnya sodaraku malah legket sama mamanya :)

    BalasHapus
  4. iya, mgkn tdk semua org ya... hehe

    BalasHapus
  5. Aku mirip sama ibuq aku juga gitu sekarang aku bertengkar terus sama ibuku padahal udah nikah setiap berdiskusi ujung2nya malah ribut ibuku kalau di ajak berpendapat ujung2nya ribut aku rasanya pengen tinggal di luar kota saja biar nggak ada pertengkaran dan masa bodi masalah keluarga ibuku nurutnya sama omongan org omngn anak sendiri kadang di abaikan dan ya gt lah kadang aku menyesal kenapa aku tidak pergi jika ibuq sudah mulai ngotot kan aku juga ikutan ngotot jdi tidak perpanjang

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sebagai anak kita ngalah aja mbk, meskipun orangtua terkadang salah tapi kita tidak boleh melawannya, mengalah demi mendinginkan suasana, atau tinggalkan sebentar, mungkin cara komunikasinya yang salah. Banyakin sabar aja ya mbak... :)

      Hapus

Posting Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.