Langsung ke konten utama

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

kabarmakkah.com
Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.

Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.


Beranjak dewasa dia mulai merasakan cinta kedua yang harus kandas di tengah jalan karena orangtuanya yang tak merestui. Sebelumnya dia juga pernah merasakan cinta pertama yaitu jatuh cinta pada seorang lelaki kampung tapi akhirnya harus kandas juga karena yang namanya cinta monyet, cinta anak muda, memang tak ada kepastiannya, cinta yang semu.

Berlanjut, dia harus berjuang mengobati sakit hati setelah putus dari cinta kedua. Sampai akhirnya dia bisa move on pada seorang laki-laki yang dipilih menjadi suaminya. Perjuangannya mempertahankan hubungan dengan calon suaminya dulu sebelum menikah juga tidak mudah. Saat dia masih berpacaran dan akan bertunangan, orang tuanya menjodohkannya dengan seorang laki-laki paruh baya dan mapan. Tapi karena gejolak jiwa muda masih ada, (secara dia punya pacar yang ganteng, muda dan dia pun mencintainya masak iya harus menikah dengan lelaki tua yang tidak dia kenal sama sekali). Dia akhirnya menolak dijodohkan dan memilih lelaki pilihan hatinya untuk menjadi suaminya. Terakhir terlihat lelaki yang gagal dijodohkan dengannya itu sudah menikah dengan seorang guru dan hidup bahagia meski belum dikaruniai seorang anak.

Hari pernikahanpun tiba. Sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta itu akhirnya bahagia karena dipertemukan dalam mahligai pernikahan. Tempat dimana mereka akan saling memadu kasih dan sayang dalam naungan Illahi.

Namun tanpa diduga, bagai di sambar petir dia terpaksa harus mengubur semua impiannya dan menerima kenyataan pahit bahwa suaminya adalah seorang yang sadis. Tabiat yang tidak pernah diketahui dulu selama pacaran. Karena selain mereka terpisah jarak dalam waktu yang lama dia juga tidak pernah melakukan hubungan bebas dengan calon suaminya waktu itu.

Dia menangis, menyesali dirinya yang telah salah memilih suami. Dia tak tahan jika harus menerima perlakuan yang kasar setiap berhubungan dengan suaminya. Jambakan, pukulan, tarikan dan dorongan nafsu yang mematikan membuatnya benar-benar merasa kesakitan yang luar biasa. Darah bercucuran, luka menganga yang belum kering harus menganga lagi setiap suaminya 'ingin'.  Meski dia sudah memohon pada suaminya namun tetap saja sang suami menguasai dirinya bagai anjing yang rakus dan kelaparan sedang mengoyak-ngoyak mangsanya.

Berhari-hari dia diperlakukan tanpa ampun oleh suaminya, mulutnya dibekap, diikat, sehingga dia tidak bisa teriak atau menjerit kesakitan. Bahkan dia diancam akan dibunuh jika berteriak.

Belum lagi dilepas hiasan kamar pengantin, kursi pengantin masih belum beranjak. Baju pengantin juga masih tergeletak si samping ranjang. Pilu sungguh pilu namun dia tidak berani mengadukannya pada orang tuanya. Karena pasti orang tuanya akan menyalahkannya. Yah... itulah resiko yang harus dia hadapi sekarang.

Beberapa minggu kemudian dia memeriksakan kondisi kesehatannya pada dokter karena dia merasakan ada gejala aneh dan tidak biasa yang dia rasakan pada daerah pribadinya. Betapa terkejutnya dia saat dokter memvonisnya menderita penyakit kelamin 'Gonorhea'.

Langkahnya gontai, tubuhnya lunglai tak mampu berdiri menghadapi kenyatann yang kini dialaminya. Dia menangis, sesegukan, terduduk di sudut kamar dengan mata yang merah karena tak bisa berhenti menangis.

Selama menjalani masa berobat, sang suami pun meninggalkan dirinya karena dianggap sebagai istri yang tak berguna karena tidak bisa 'dipakai'. Bukan dia yang meminta tapi dokter yang menyuruh agar suaminya 'puasa' dulu sampai kondisinya benar-benar sembuh. Tapi yang dia harapkan suaminya mau bersabar justru malah mengusirnya dari tempat tidur dan mengancam akan membunuhnya. Karena takut akan ancaman suaminya, dia pun rela tidur di sudut kamar beralaskan selimut.

Tanpa hati nurani suami masih saja kasar dan bengis padanya dan akhirnya dia pun ditinggalkan. Padahal penyakit itu dari suaminya tapi justru dia yang dianggap bersalah.

Betapa malang nasib dirinya, sendiri menanggung semua luka hati dan kecewa. Dia terpaksa berbohong pada orangtuanya dengan mengatakan bahwa suaminya mendapat kerja di luar kota. Harus bagaimana lagi agar orangtuanya tidak curiga, kalau tidak berbohong?

Beberapa bulan dia terpuruk menanggung derita justru dia mendapatkan dua kado terindah. Kado yang sekaligus dapat menyembuhkan lukanya. Pertama, dia sembuh dari penyakit berbahaya itu. Yang kedua, dia hamil. Dia menangis antara bahagia dan derita. Bahagia karena dia dipercayakan untuk memiliki seorang anak. Bahagia karena dia tidak lagi menderita kesakitan dari perlakuan suaminya Derita karena dia harus merawat dan membesarkan anaknya seorang diri.

Dan yang lebih membuatnya sedih adalah pengakuan suaminya di malam pertama, saat suaminya mengatakan bahwa suaminya menikahinya karena taruhan atas dirinya yang masih perawan. Suaminya yang memenangkan taruhan itu dan membuktikan keperawanan dirinya. Taruhan apa? Maksudnya apa? Kenapa dirinya? Entahlah, itulah yang sampai detik ini belum dia dapatkan jawabannya.

Ah,,, andaikan dulu dia mau mendengarkan nasehat orang tuanya dan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, mungkin nasibnya tidak seperti itu. Tapi sudahlah... nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya disesali karena bubur tak mungkin berubah jadi nasi kembali.



 puji saputri

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.