Langsung ke konten utama

Cinta Memang Tidak Memandang Apapun, Tapi Pandangan Ini Membuat Kita Tak Bisa Bersatu Dalam Cinta

lifestyle.okezone.com
Awalnya semua baik-baik saja, kau dan aku dipertemukan dalam pertemuan yang tak terduga. Di luar kuasaku, kau meminangku dan aku menerimamu. Kau baru setahun merantau dari pulau Jawa ke salah satu pulau di Riau ini. Kau tinggal bersama kakak perempuanmu. Akupun bekerja di sini sudah hampir lima tahun. Kita sama-sama menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terlebih aku yang hanya seorang janda beranak satu, sementara dirimu masih bujang. Kita hidup dalam mahligai cinta yang diridhoi Allah, begitu indah dan romantis bagai dunia ini milik kita berdua. Aku masih ingat ketika awal cinta kita bersemi dalam sepiring ketoprak. Kau tentu masih ingat kenangan manis itu kan?

Tujuh bulan setelah menikah kita harus berpisah dalam jarak yang jauh. Kau memintaku untuk pulang ke rumah orangtuaku di Sumatera. Dan kembali berkumpul dengan anakku yang selama lima tahun ini kutitipkan pada ibuku. Dan nanti kau akan menyusulku sebelum kelahiran. Semua masih terasa indah meski harus menahan rindu dan gejolak hati yang berbunga-bunga. Kita hanya bisa saling bertanya kabar lewat media sosial dan ponsel. Sambil menunggu kelahiran anak kita.

Di tengah perjuanganku melahirkan buah cinta kita, kau mengantarku sampai ke meja operasi. Haru, sedih, bahagia, campur aduk jadi satu menyambut kelahirannya. Kau menemaniku tanpa berpaling sedikitpun. Aku tahu kau panik, was-was dan khawatir padaku karena ini baru pertama kalinya merasakan perasaan seperti ini. Senyumku, senyummu merekah ketika jagoan kita lahir dengan sehat dan selamat. Anakku yang berumur enam tahun itupun gembira menyambut kelahiran adik barunya.

Namun setelah delapan bulan kelahiran anak kita, kau bukanlah menganggur, kau dapat kerja yang lumayan. Tapi kau malah memilih pergi menjauh dari kami. Meninggalkan kami demi bekerja ke pulau Kalimantan. Padahal aku sudah sangat bersyukur dengan kehidupan kita yang seperti ini, apa adanya. Kau sudah bekerja, punya penghasilan tiap bulan, kalau kau bersabar maka pasti karirmu akan meningkat. Tapi kau tetap bersikeras ingin pergi demi berbisnis dengan saudara lelakimu. Meski kucoba tuk menahan, "Tetaplah di sini bersamaku, jangan tinggalkan kami, biar kita hidup sederhana asal tidak terpisah oleh jarak. Aku ingin kita hidup mandiri tanpa bergantung lagi pada keluarga, Kita harus berusaha sendiri demi keluarga kita. Lagipula apa kamu kuat berpisah dengan keluarga dalam waktu selama itu?" Kau berusaha meyakinkan dirimu, meyakinkan aku dan berharap bisnismu akan sukses bersama saudaramu. kau bilang, "Lebih enak kerja dengan keluarga, jauh dari tekanan"  

Dan sepertinya semua nasehatku tak ada artinya bagimu. Akupun terpaksa melepasmu. Aku tak ingin dikatai istri durhaka yang mengekang keinginan suami, aku tak ingin di cap sebagai istri yang melarang suaminya untuk bekerjasama dengan saudaranya sendiri. Aku tak ingin dianggap istri yang merebut seseorang dan menjauhkan suamiku dari keluarganya.

Di teras rumah ini, aku merasakan hal yang aneh saat kau memintaku untuk berfoto bersama sebagai kenangan yang akan kau jadikan obat rindu sesampai di sana. Air mata ini menetes ke dalam saat mengiringi kepergianmu. Serasa aku tak sanggup memandang punggungmu. Berusaha tetap tersenyum saat kau berpaling memandangku yang berjalan di belakangmu.

Lebih dari 12 jam perjalanan dari Sumatera ke Kalimantan dengan 3 kali transit. Kau kabarkan bahwa dirimu sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan. "Hati-hati ya sayang" kataku di akhir obrolan. Kita memang sudah pernah berpisah jarak tapi kali ini terasa berbeda karena kau berada sangat jauh dari bayanganku. Kau berjanji akan pulang menemuiku, menemui anak kita setiap tahun.  

Janji yang kuharapkan akhirnya berbuah petaka, tak sampai setahun kau memintaku untuk ikut ke Kalimantan. "Nggak kuat aku di sini sendiri, jauh dari istri dan anakku" itu katamu dengan agak emosi padaku di ponsel malam itu.

Selama menanti kedatanganmu yang ingin menjemput dan memboyongku ke Kalimantan, Berat rasanya aku untuk ikut, sambil menyusun pakaianku ke dalam travel bag, air mataku menetes. Bukan karena aku takut tinggal di sana, bukan karena aku sedih harus meninggalkan anak pertamaku lagi. Tapi aku tahu kau tak sanggup mengemban tanggungjawab ini sendirian. Karena aku tahu karaktermu yang terlalu menggantungkan hidup dengan keluargamu. Kau belum pernah hidup mandiri, kau belum pernah berjuang mempertahankan hidup diperantauan dengan seorang diri.

Bahkan dulu ketika masih pacaran, aku bertanya padamu "Apakah kau sanggup hidup seperti diriku jauh dari keluarga dan anak seperti ini?" kau bilang "Nggak sanggup" Lalu bagaimana kau akan mengurus kami sementara kau sendiri belum mampu mengurus dirimu sendiri. Awalnya aku merasa aku bisa menjadi rekan satu team mu. Aku merasa bisa berjalan beriringan denganmu saling membantu dan menguatkan saat salah satu dari kita rapuh. Semua kekhawatiranku kau tepis dengan mengatakan bahwa "Semua akan baik-baik saja, aman dan terkendali. Aku bisa mempertanggungjawabkan itu semua." "Ya sudah, jika kau mampu, maka akupun tak punya alasan lagi untuk menolakmu." Akupun menjual rumahku yang selama ini kita tempati karena berpikir aku akan tinggal lama di Kalimantan.

Sebulan di sana, aku mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tinggal di rumah kontrakan yang sangat sederhana. Yang selama ini ada PDAM, kini hanya ada air sumur itupun harus beli karena tidak semua rumah punya sumur. Setiap beli 50 ribu air itu ditampung di tempat penampungan air berkapasitas 1500liter dan itu bisa digunakan untuk dua-tiga hari. Keadaan rumah yang jauh dari kota, bila ingin membeli makanan atau roti harus naik mobil selama setengah jam ke kota. Ada warung tapi lumayan jauh jika harus berjalan kaki. Sementara kami hanya ada mobil yang biasa dipakai olehmu berjualan kasur. Ya, jualan kasur adalah bisnis yang kau jalani di Kalimantan.

Biasanya kau hanya memikirkan dirimu, kini kau harus memikirkan aku, anakku, air belum diisi karena habis, stok makanan habis sementara kau sedang berada jauh dari rumah. Pikiranmu yang tadinya fokus dengan usahamu justru bercabang dengan adanya kami. Apalagi jika anak sakit karena cuaca yang baru ditempati membuat anak kita terkena alergi kulit. Ya, kau tak memang mengeluh dan meyalahkanku, tapi hari-hari kau bilang capek, pusing, bingung dan tak ada lagi raut wajah bahagia terpancar di wajahmu. Hanya raut wajah sedih yang kulihat. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik kalau suasana hatimu tak mendukung untuk itu. Kau pun tak berusaha mengajakku bekerjasama meski aku ingin melakukan itu.

Kau menyerah dan pasrah karena sudah tak berdaya menghadapi semua. Yang ada kita sering bertengkar, hubungan tak lagi harmonis. Sebulan kemudian aku hamil, kau semakin panik karena mengingat kehamilanku yang payah. Ya, aku harus bedrest di tempat tidur karena selama hamil mengalami mual muntah yang terus menerus dan sering jatuh pingsan. Bagaimana kau akan mengendalikan semua itu, kau mulai uring-uringan. Aku butuh perhatian yang ekstra, tubuhku yang lemah tak berdaya membuat aku tak bisa melakukan apapun, anak juga harus diurusi ditambah pekerjaanmu yang harus keluar kota dan meninggalkan kami. Kau semakin panik, tak bisa memutuskan yang terbaik. Kau titipkan aku ke rumah orangtuamu di Jawa.

Kemelut rumah tangga semakin menjadi, karena solusi menitipkan aku di rumah orangtuamu tak menyelesaikan masalah, justru semakin menambah masalah karena selera makanku yang tak menemukan kecocokan. Meski sudah berusaha untuk memaksakan makan tapi tetap saja tak ada yang bisa masuk. Aku jadi stres karena khawatir janin dalam kandunganku tak mendapat asupan nutrisi makanan. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan anakku. Ditambah lagi anakku yang dua tahun juga tak mau makan, rewel terus karena aku menyapihnya beberapa hari yang lalu. Ibumu kewalahan dan kerepotan. Aku sudah katakan ingin pulang ke Sumatera saja dari pada membebani ibumu yang sudah tua. Tapi kau tak mengijinkan. Aku kasihan ibumu, kasihan anakku, kasihan kamu, kasihan juga pada diriku dan janin dalam kandunganku.

Apalagi sejak kau tinggalkan aku di Jawa dan kau kembali ke Kalimantan. Terang-terangan ibumu mengatakan di depanku kalau ibumu tak sanggup mengurus aku, Dan tetangga yang menjengukku juga kasihan karena melihatku yang sudah kurus tak mau makan. Sempat mereka juga menyarankan agar aku pulang ke Sumatera tempat ibuku tapi tetap saja ibumu dan kamu tak mengijinkan. Tapi yang semakin membuatku nelangsa ibumu berbohong dengan mengatakan padamu bahwa ibumu ikhlas melakukan itu dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Padahal kenyataanya tidaklah demikian. Di depanku ibumu berkata lain, di depanmu ibumu berkata lain.

Aku sangat berharap kau tidak menitipkanku pada ibumu. Jika memang niatmu sudah bulat untuk memboyongku ke Kalimantan harusnya kau bertanggungjawab sepenuhnya bukan melemparkan tanggungjawab pada ibumu. Toh kita tetap hidup terpisah kan? dan kemana tujuan awalmu yang tak ingin hidup terpisah dengan keluarga? Harusnya kau memutuskan untuk tetap bertahan di Kalimantan. Sejak masih di Kalimantan aku menunggu kau mengatakan "Apapun yang terjadi kita tetap di sini dan aku akan melakukan apapun demi keluarga kita, asal kita bersama." Tapi nyatanya tidak. Aku tidak bisa memberi saran karena tipemu yang jika itu adalah saran dan pendapatku maka jika terjadi sesuatu kau pasti menyalahkan aku si pemilik saran. Jangankan ideku, benturan karena menjalankan idemu saja tetap kau menyalahkan aku. Maka lebih baik aku diam dan menunggu keputusanmu. Tapi nyatanya keputusanmu lagi-lagi bukanlah yang terbaik. Mungkin ini juga salahku.

Seharusnya sebagai suami kau memikirkan kebaikan untuk semua orang bukan kebaikan untuk dirimu sendiri. Kau harus memikirkan janin dalam kandunganku, kau harus pikirkan psikologisku ynag sedang hamil, Kau harus pikirkan anak kita, Kau harus pikirkan ibumu yang sudah tua dan tak kuat mengurusi anak kecil. Karena ide atau apapun pendapat dariku tak satupun kau terima. Meski dengan memohon dan memberi pengertian padamu. Ini lagi-lagi kesalahanku.

Akhirnya kau mengijinkan aku pulang ke Sumatera meski dengan terpaksa. Tapi konsekuensinya aku harus meninggalkan anak kita. Awalnya aku keberatan untuk meninggalkan anakku tapi aku berpikir untuk mengutamakan janinku yang belum terbentuk dan akan terbentuk dengan baik jika jiwa dan ragaku juga baik. Karena untuk melahirkan anak yang sehat maka ibunya harus sehat dulu lahir batin. Jika aku bertahan di sini psikologisku terganggu. Aku tak ingin anakku lahir dengan ketidaksempurnaan. Harusnya kita sependapat tentang ini. Sementara anakku yang dua tahun ini sudah terbentuk dan sudah jelas keadaannya. Sekali lagi mungkin pemikiranku ini juga salah dan berlebihan.

Karena kau melibatkan ibumu, maka akupun meminta orangtuaku untuk menjemputku ke Jawa karena kondisiku yang tak mungkin bepergian seorang diri. Diskusi panjang antara keluarga tetap tidak mengubah keputusanmu. Salahku, aku pergi.

Dari situlah, banyak perbedaan pendapat yang membuat kita tak bisa bersatu. Kita tak pernah bisa menyatukan dua pendapat. Semakin berusaha menyatukan semakin membuat kita berjauhan.

Kini, hampir tiga tahun kita berpisah, sejak kepergianku dari rumah orangtuamu, selama itu pula aku berpisah dengan anakku. Masih jelas diingatanku saat ibumu berusaha menghalangiku waktu aku hendak memeluk dan mencium anakku ketika akan pergi. Pemandangan yang sangat melukai hatiku sebagai ibu. Dan selama itu pula kau tak pernah mengirimkan nafkah pada anakmu. Alasanmu, kau belum punya penghasilan sendiri karena selama ini masih numpang hidup sama keluarga. Bahkan kau tak datang saat putri kecil kita lahir. Tidak, kau datang tapi sekali lagi kita berdebat dan berselisih pendapat. Kau sudah datang tapi melihatku tak ada di rumah kau marah karena menganggapku tak mempedulikanmu padahal aku sedang di rumah sakit. Yang tak kusuka darimu, keluargamu terlalu mencampuri urusan kita. Ada banyak statement, tuduhan dan cacian juga hinaan yang kuterima justru dari saudaramu. Bukan dari mulutmu sendiri. Bahkan kakakmu tahu sesuatu yang tak perlu diketahui orang lain tentang rumah tangga kita. Ntah bagaimana mereka bisa tahu. Sementara aku tak pernah menceritakan apapun pada keluargaku. Akhirnya kita salah paham terus. Kau lebih nyaman mengadu dan berdiskusi dengan kakak-kakakmu dari pada berdiskusi denganku. Aku terus berada di pihak yang salah bagimu.

Dalam kesendirian kita saat ini. Kau masih menggantungkan hidup dengan orangtuamu. Masih terus bersama kakakmu meski usaha kasur yang kau rintis sudah bangkrut tetap saja kau tidak bisa jauh dari keluargamu. Kau tak berusaha untuk mandiri dan mencari pekerjaan dan tetap berharap pada kakakmu. Hei, kamu itu laki-laki, pemimpin keluarga, ayah dari anak-anakmu. Kapan kau akan mandiri dan sampai kapan kau bergantung pada keluargamu. Inikah contoh yang kau perlihatkan pada anak-anak kita?

Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku juga masih mencintaimu. Kita masih sama-sama menanti. Menanti sesuatu yang tak pasti. Tapi aku tak bisa kembali selagi kau masih menggantungkan hidup dengan keluargamu. Biarlah doa ini terus terucap agar suatu saat Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik. Pernah aku menawarkan pertimbangan padamu. Kita kembali tapi kita tidak tinggal di rumah orangtua. Ntah itu di Sumatera atau di Jawa. Dan kita bisa mulai hidup kita dengan berjualan atau apalah. Karena kalau kita mau berusaha Allah pasti memberi jalan. Yang penting kita mandiri. Tapi kau tidak mau dan lebih memberatkan keluargamu.Ya sudah...

Andaikan kau bertahan bekerja di Sumatera waktu itu. Tak kau terima tawaran kakakmu ke Kalimantan. Pasti keluarga kita baik-baik saja. Kini justru jadi boomerang bagi keluarga kita. Keluarga kita tak terpisah, aku dekat dengan anak bawaanku, anak-anakmu juga terawat dengan baik, keluarga kita kumpul meski hidup apa adanya. Kenapa aku tak bawa saja anak pertamaku? tidak bisa, karena aku sudah janji dengan mantan mertuaku dulu bahwa anakku tidak akan kemana-mana karena jika ayah atau neneknya ingin ketemu bisa langsung ketemu kapan saja. Janji itu tak bisa kuingkari. Lagipula kau tak sayang anakku. Cara didikmu tidak sependapat denganku. Kau mendidik seperti menciptakan kesan ayah tiri yang kejam pada anakku.

Jika kau bisa melihat lebih dalam lagi, tak ada bedanya bagiku antara ikut denganmu di Jawa atau Kalimantan atau tinggal di  Sumatera. Toh aku tetap terpisah dengan satu anakku. Pernahkah terpikirkan olehmu perasaan anakku, jika aku memilih ikut denganmu lalu membiarkannya diasuh oleh ibuku dalam waktu yang lama. Apakah anakku tak merasa cemburu jika aku lebih menyayangi dan memilih merawat dua adiknya dengan kasih sayang ayah dan ibu yang lengkap sementara membiarkan dia dibesarkan tanpa kasih sayang ayah dan ibunya? Aku tak ingin kejadian terulang lagi saat anakku memanggilku 'mbak' waktu aku pulang menemuinya dulu.

Kini aku mengurus satu anakku dan satu anakmu, dan kau mengurus satu anakmu kurasa adalah jalan yang terbaik agar anak-anak kita sama-sama mendapatkan satu kasih sayang orangtua. Meski nyatanya anakmu harus kau titipkan pada ibumu dan kau kembali ke Kalimantan. Kau tidak mempercayaiku dan lebih percaya pada ibumu untuk merawat anak kita.

Harapanku, kau kembali, kita rintis sebuah usaha bersama, untuk masa depan keluarga kita. Kita mandiri bersama di sini. Kita rawat anak-anak bersama tanpa seorangpun anak kita yang merasa ditirikan. Biar kita makan apa adanya asal keluarga kita tidak terpisah-pisah. Karena tak ada kebahagiaan paling sempurna selain bisa duduk berangkulan dalam satu keluarga yang utuh. Tertawa bersama, bercanda bersama, gembira bersama, suka dan duka tetap bersama.

Terlalu sulitkah itu bagimu? Ataukah keinginanku yang terlalu berlebihan?

Apakah aku egois ataukah kau yang egois? ntahlah... yang pasti baik aku maupun kau merasa sama-sama benar dan tak punya salah.

Cinta memang tak memandang apapun tapi pandangan yang satu ini membuat kita tak bisa bersatu dalam cinta. Meski cinta itu sebesar gunung dan seluas lautan.

Untuk anakku yang jauh di sana, hari ini tepat 5 tahun usiamu. Maafkan ibu yang tak bisa berada di sisimu untuk merawatmu. Tapi ibu yakin, kan ada mbah putrimu yang ibu rasa juga sangat menyayangimu dan tulus merawatmu. Jaga dirimu baik-baik ya nak, suatu hari nanti kelak kau dewasa kau akan tahu dan mengerti mengapa kau berada dalam kehidupan seperti ini, jauh dari ayah dan ibumu. Doa ibu selalu menyertaimu. Maafkan kami yang telah membuat hidup kalian seperti ini.


puji saputri 




Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.