Langsung ke konten utama

Bahagia Itu Sesederhana...

.kompasiana.com
Pernahkah kita melihat orang kaya tapi selalu saja mengeluh? punya rumah mewah, mobil bagus, beberapa butik dan suami yang punya pekerjaan mapan? tapi selalu was-was saat mobilnya parkir atau masuk garasi. Takut di ambil orang, takut lecet dan bla bla bla sebagainya. Takut butiknya di bobol maling. Takut rumahnya di congkel saat sedang tidak di rumah. Lalu untuk semua itu mereka mencari satpam terbaik dan membayarnya mahal untuk menjaga harta kekayaannya.
 

Pernahkah melihat orang cantik tapi selalu bercermin untuk memoles wajahnya agar terlihat lebih cantik lagi dan bergumam, takut kalau ntar komedoku kelihatan, ntar make-up ku luntur, tuh kan jerawatku nongol, maskaranya belepotan dan lain sebagainya. Dan untuk semua itu dia berusaha mencari bermacam-macam kosmetik untuk mengobati dan menghilangkan sesuatu yang sebenarnya tidak harus ditakuti. Bahkan karena rasa khawatir yang terlalu tinggi dia murung seharian sehingga malah menutupi kecantikannya yang sesungguhnya.

Ada lagi orang pintar yang tak pernah puas akan nilai matematikanya yang sudah mendapatkan nilai 98. Mati-matian belajar dan mencari guru pembimbing atau kursus di tempat ternama agar nilainya sempurna. Begadang hanya untuk memperbaiki kekurangan yang tidak seberapa. Malah dia menjadi kurang tidur dan tidak konsentrasi lagi menghadapi materi pelajaran esok harinya.

Ada juga seorang laki-laki lajang, pingin sekali dan iri melihat orang menikah. Mencari cara agar bisa menikah. Setelah menikah pingin punya anak karena melihat seorang anak yang berjalan diapit oleh orangtuanya sambil tertawa bahagia. Setelah punya anak merasa kewalahan karena begadang semalaman dan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena tangisan dan rewelnya si kecil. Dalam hati berkata "kapan kamu besar nak, cepat besar biar nggak nyusahin lagi" beranjak dewasa sang anak terlibat kenakalan remaja dan membuatnya di panggil ke kantor polisi berkali-kali. Kembali mengumpat "kalau tahu anakku begini, lebih baik tidak punya anak". Tanpa dinyana sang anak tertabrak truk dan meninggal. Nyesel, nangis dan berduka berhari-hari. Meratapi kini hidupnya sudah tua dan sakit-sakitan. Siapa yang merawat? tidak ada, hanya dia sendiri, sang istri sudah diceraikan karena dia merasa sang istri sangat bodoh dan tidak becus menjadi istri atau ibu.

Kalau sudah begitu, apa yang menjadi patokan kebahagiaan? 

Bahagia itu ketika masih bisa tinggal di rumah kecil dan sederhana, dapat tidur nyenyak walau hanya beralas tikar. Bisa makan dua kali sehari dibanding mereka yang kelaparan.
Bahagia itu ketika masih bisa menghirup udara sebanyak yang kita mau. Masih bisa tersenyum melihat wajah yang sempurna dibanding mereka yang cacat. 

Tak ada jaminan bahagia dengan harta mobil dan rumah yang bagus. Bukan juga uang yang banyak yang bisa membeli semua. Jika hati kita sempit takkan ada gunanya.

Bagaimana bisa bahagia? Adalah dengan bersyukur. Bersyukur atas apa yang dimiliki. Bersyukur masih bisa bernafas, bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan, bisa makan walau seadanya. Bisa punya istri dan anak-anak dan melihat senyum di bibir mereka. Bisa selalu bersama orang-orang tersayang.

Belajar dari seorang tukang parkir. Dia tak pernah menyombongkan diri saat dia dititipkan begitu banyak kendaraan mulai dari yang biasa sampai yang mewah. Begitupun juga dia tak pernah sedih jika kendaraan yang dititipkan padanya diambil satu persatu oleh pemiliknya, bahkan sampai habis tidak bersisa satupun. Dia tidak mengumpat malah menjaga semua dengan baik. Dia tetap pulang ke rumahnya dengan senyum dengan harapan bahwa hari esok 'kan datang kembali.   

Bahagia itu sesederhana kamu menemukan jalan pulang saat tersesat.
Bahagia itu sesederhana kamu pulang membawa sekantong gorengan untuk keluargamu.
Bahagia itu sesederhana kamu merasa nyaman oleh senyuman orang terkasih di waktu sibukmu.
Bahagia itu sesederhana pelukan anakmu saat menyambut kedatanganmu.
Bahagia itu sesederhana kamu menemukan cahaya lilin saat yang lain kegelapan.
Bahagia itu sesederhana kamu melihat wajah polos dan lugu anak-anakmu ketika tidur.
Bahagia itu sesederhana kamu masih bisa menghirup oksigen hingga saat ini.
Bahagia itu sesederhana kamu mampu mensyukuri apapun yang kamu miliki.
Dan yang paling penting bahagia itu hadir di saat kamu bisa berbagi dan memberikan keceriaan di wajah mereka.

Bahagia itu sederhana bukan? intinya bersyukur. Syukur itu ada dihati kita. yuk! benahi hati kita untuk bisa tersenyum saat berduka. Merasa lapang saat dilanda kesempitan. Merasa kaya saat diberi kemiskinan. Merasa tinggi saat direndahkan. Merasa mulia saat dihinakan. Merasa hebat saat bisa menghadapi ujian demi ujian dari Allah dengan tetap sabar dan tabah. Bagaimana dan apapun bentuknya. Bahagia itu tidak didapatkan tapi diciptakan oleh hati kita sendiri untuk memiliki rasa syukur itu sendiri. 

puji saputri 30 Okt 2016        

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.