Langsung ke konten utama

Maafkan Ibu Nak...






Maafkan Ibu Nak...

Aku memang telah mengandung dan melahirkanmu seorang diri
Aku juga yang telah merawat dan menjagamu siang dan malam
Aku yang telah menemani hari-harimu bahkan sejak kau belum mengenal dunia
Tapi aku, bukanlah ibumu
Aku bukanlah madrasah yang baik untukmu
Ketika aku menyakitimu dengan kata-kataku Ketika aku melukaimu dengan tanganku
Ketika aku menghardikmu dengan teriakanku
Ketika aku membiarkanmu bermain sendiri
Ketika tak kuberikan kasih sayang dan perhatian
Ketika aku tak peduli saat kau butuh pelukan
Ketika aku hanya sibuk dengan urusanku saja
Maafkan ibumu ini Jika masih layak kau panggil ibu
Melihatmu terlelap, ada rasa bersalah yang teramat dalam
Ada rasa penyesalan ketika tadi mengacuhkanmu
Aku tak pernah luangkan waktu untukmu bermain bersama, bercanda berdua
Ah... ibu macam apa aku ini...
Kuseka keringat yang muncul di kulitmu
Kubelai rambutmu yang pirang
Ntah kapan terakhir kali aku memandikanmu
Kuusap wajahmu yang sendu karena lelah bermain dengan boneka kesayanganmu
Ntah kapan lagi kita akan merasakan masa ini lagi
Ntah kapan lagi aku akan mencium aroma tubuhmu ini
Kelak kau dewasa, aku tak akan lagi bisa memelukmu seperti ini
Maafkan ibumu ini nak...
Doaku selalu menyertaimu


coretanpupu#

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Punya Wajah Mirip Orangtua, Selalu bertengkar. Mitos atau fakta?

Punya wajah yang mirip atau hampir mirip dengan wajah orangtua, baik ibu atau ayah mengakibatkan kita selalu bertengkar, benar nggak sih? Saya termasuk anak yang punya wajah mirip sekali dengan ibu saya. Orang-orang selalu mengatakan bahwa saya adalah fotokopi ibu. Apalagi jika bertemu dengan teman lama ibu, mereka selalu bilang "Kamu mirip sekali ya, persis seperti waktu ibumu masih gadis dulu."