Langsung ke konten utama

Kisah Nyata Yang Mengharukan "Kejora, Anak Kandung Yang Ditirikan #1#"

images.detik.com
'Kejora' itu adalah nama seseorang yang pengalaman hidupnya akan saya tulis di sini. Kisah nyata ini membuat saya tak habis pikir dan bertanya dalam hati "adakah seorang ibu yang tega berbuat seperti ini pada anak kandungnya sendiri?" Semoga kita dan khususnya saya dapat mengambil hikmah dari cerita ini.

Kejora adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia anak perempuan sendiri. Dua kakaknya laki-laki. Ketika Kejora berumur 9 tahun. Ibunya mengadopsi seorang anak perempuan yang diberi nama Mentari. Mentari diasuh sejak berumur satu tahun.

Orang tuanya juga tidak pernah memanjakannya. Kejora mulai merasakan sesuatu yang aneh tentang ibunya. Kejora merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya. Bagaimana tidak, Kejora sering dimarahi karena sepulang sekolah tidak langsung mencuci piring  dan dikata-katai kasar oleh ibunya. Bahkan pernah ibunya menjambak rambut Kejora lalu menariknya ke atas dan dihempaskan ke lantai lalu ditarik lagi dihempaskan lagi sampai beberapa kali. Hanya karena masalah yang belum begitu difahami oleh anak seusia itu.


Kejora tak pernah dendam dengan ibunya. Dia paling hanya menangis sendiri di kamar setelah dimarahi ibunya. Pakaian, sepatu, tas sekolah hanya dibelikan ibu saat pertama masuk sekolah saja. setelah itu jika sepatu bolong, tas sobek atau kebutuhan apapun Kejora menabung sendiri dari uang jajannya yang tidak seberapa. Baju baru hanya dibeli ketika lebaran saja.

Ketika sudah SMP, Kejora minta dibelikan celana dalam karena celana dalamnya sudah robek dan berlubang. Masih mendingan kalau hanya melar saja, tapi ini sudah darurat karena sudah lapuk dimakan usia. Tapi ibu tidak mau membelikannya. Sambil menunggu uang tabungannya terkumpul, Kejora menambal celana itu dengan kain perca semampu yang dia bisa karena dia malu jika harus menjemur celana itu di luar. Namanya juga anak gadis yang baru mulai aqil baligh, Kejora minta dibelikan bra dan celana pendek untuk dalaman. Tapi ibunya tidak juga mau membelikan. Kemudian saat diumumkan kalau besok di sekolah ada razia pakaian dalam, terpaksa Kejora menjahit beberapa kain perca untuk dijadikannya bra. Dengan menggunakan bra dan celana pendek hasil jahitan sendiri Kejora selamat dari hukuman di sekolah.

Seminggu lamanya, bra dan celana pendek itu tak pernah dicucinya karena memang hanya itu satu-satunya yang dia punya. Dia juga sudah merasa gatal dan risih memakainya, pada hari Minggu, kebetulan libur sekolah, Kejora mencucinya. Awalnya dia takut mencucinya karena takut ketahuan ibu tapi akhirnya ketahuan juga saat ibu melihat dua benda aneh itu terjemur di luar. Apa yang terjadi? ibunya marah besar dan mengoyak-ngoyak sepasang benda yang hanya satu-satunya itu dan melemparkannya ke wajah Kejora sambil berkata "pintar kamu membuatnya sendiri ya? jangan harap ibu akan membelikannya." Dengan berurai air mata dia mengadu pada ayahnya. tapi ayahnya juga tidak bisa berbuat banyak karena uang gaji ayah sudah disetor ke ibu semua.

Untuk menambah uang tabungannya, setiap hari dia menjual biji jagung goreng. Dia membelinya di pasar dalam ukuran banyak lalu sesampai di sekolah dibaginya menjadi beberapa buah yang kemudian dimasukkannya ke dalam plastik-plastik kecil. Dia menjualnya ke teman-temannya. Lalu dia juga membantu menjajakan keripik seorang nenek, jika laku semua maka dia mendapatkan 20% dari hasilnya nanti. Dari uang itulah dia bisa membeli kaos kaki, pembalut, bra dan celana dalam. Selama itupun ibu dan ayahnya tidak pernah tahu.           

Mengetahui menstruasi pertamanyapun dari temannya di sekolah. Kejora tumbuh menjadi anak yang mandiri. Kebutuhan pribadinya selama ini selalu dibeli dengan uangnya sendiri. Dan kini Mentari pun sudah remaja. Saat itulah Kejora semakin merasa dianak tirikan oleh ibunya karena waktu itu dia mendapati ibunya baru pulang dari pasar dan saat itulah ibu memamerkan sepasang pakaian dalam padanya.  Dia mengira pakaian dalam itu untuknya, tapi dia terkejut saat ibunya berkata "ini untuk Mentari, kasihan dia, apa kata orang nanti, kalau dibilang ibu tidak becus merawat Mentari."

Kejora tidak pernah dendam atau marah pada ibu dan Mentari, malah dia senang melihat adik angkatnya diurus dengan benar oleh ibu. Kejora juga sering sedih ketika malam tiba dan melihat ibunya tidur berpelukan dengan Mentari, sedangkan selama ini ibu tidak pernah memeluknya sama sekali. Tak hanya itu, ibu juga membelikan semua kebutuhan Mentari bahkan tanpa diminta. Dan lagi-lagi Kejora hanya menangis batin melihat perlakuan ibunya. Pernah Kejora minta dibelikan bedak yang sama dengan Mentari, walaupun ibu mengiyakan permintaannya tapi pulang-pulang ternyata ibu hanya membelikannya untuk Mentari.      

Ketika Kejora meminta pakaian dan jilbab lawas milik ibunya, ibunya tidak memberinya. Tapi tanpa diminta, ibu mau memberikan baju lawas miliknya untuk Mentari dengan alasan "baju ini cocok buat Mentari, lagipula dia juga tidak punya baju." Ibu juga sering memberikan baju untuk tetangga dan saudaranya, tapi kenapa pada Kejora tidak?

Setelah tamat sekolah, Kejora bekerja di sebuah rumah sakit. Gaji pertama, Kejora meminta Mentari untuk menemaninya ke pasar untuk membeli sesuatu. Tapi tidak diijinkan ibunya dan berkata "memangnya kamu tidak bisa pergi sendiri?"

Ketika Kejora mengajak ibunya ke pasar, dengan gaji yang memang tidak seberapa. Kejora ingin membeli lipstik di toko kosmetik, Kejora memilih yang harganya paling murah. Ternyata ibu juga ikut memilih, dan ibu memilih lipstik yang harganya 3xlipat dari harga lipstik Kejora. Walaupun Kejora agak terkejut, tapi dia tetap membayar semua.

Begitupun jika Kejora membeli baju atau jilbab. Jika ibu diajak ke pasar, belum ketemu baju yang sesuai dengan keinginan Kejora, ibu sudah lebih dulu minta dibelikan. Kalau ibu tidak diajak, saat Kejora memakai baju atau jilbab baru, ibupun langsung mencarinya ke pasar besok harinya dan membeli persis sama yang dibeli oleh Kejora, hanya beda warna saja. Tapi ketika Kejora meminta dibelikan jilbab ibu malah membelikan untuk diri ibu dulu, kalaupun Kejora dibelikan, hanya dibelikan jilbab murah dan sesuka hati ibu. Seolah-olah penampilan Kejora tidak boleh bagus atau melebihi yang ibu punya. Padahal yang dibeli Kejora tidaklah mahal hanya Kejora pandai memilih warna yang bagus. Dan apapun yang dipakai Kejora selalu tampak manis, anggun dan luwes meski harganya murah.

Meskipun begitu, Kejora dan Mentari sangat dekat tapi ibu tak pernah membolehkan Mentari masuk ke kamar Kejora walau hanya untuk sekedar curhat atau berbagi cerita. Ibu selalu memanggil Mentari keluar dan mencari-cari alasan untuk menyuruh Mentari memijit ibulah, mencarikan uban ibulah, membuatkan teh atau membelikan ibu cemilan. Tidak hanya di kamar, di teras atau di ruang keluarga, ibu selalu tidak suka melihatnya bercerita sambil tertawa dengan Mentari. Tak jarang Kejora mengintip dan menguping ibu yang sedang bercerita dan tertawa dengan Mentari. Dalam hati Kejora berkata "selama ini ibu tidak pernah cerita atau tertawa seperti itu denganku." Akhirnya Kejora maupun Mentari bisa ngobrol jika secara sembunyi-sembunyi atau mencari waktu ibu lengah atau jika ibu tidak di rumah.

Setiap ibu pulang dari pasar dan membawa kue atau makanan, ibu akan langsung membaginya untuk semua anak lelakinya dan Mentari juga, Tak terpikir untuk menyisakannya sedikit untuk Kejora. jika ditanya "untuk Kejora mana bu?" ibu menjawab "Yah sudah habis, kamu makan nasi saja." Di lain hari pernah Kejora ikut berebut mengambil kue, ibu malah berkata "sisihkan untuk si anu (saudara laki-lakinya) kasihan nanti dia pulang nggak kebagian" Seolah-olah ibu menganggap Kejora anak yang paling rakus saja. Tidak hanya kue atau makanan kecil, sambalpun kerap disembunyikan ibu untuk anak lelakinya. Tak jarang Kejora makan nasi dengan koretan cabe yang tersisa di piring sambal.

Ibu juga pernah keceplosan dengan mengatakan bahwa anak-anak lelaki ibulah yang ibu harapkan karena menurutnya doa merekalah yang diterima oleh Allah. Dan ntah sadar atau tidak, ibu juga mengatakan bahwa dia akan menghabiskan sisa umurnya dengan Mentari saja, tidak dengan Kejora. Sadarkah ibunya dari semua anak laki-lakinya, termasuk Mentari, tidak satupun dari mereka yang sholat. Lalu kapan dan bagaimana mereka akan mendoakan ibunya? dan doa siapa yang didengar oleh Allah?

Begitu pedih hati Kejora menerima kenyataan hidup diperlakukan tak adil oleh ibunya. Tapi hati Kejora tak pernah sepedih ini ketika ibunya cemburu dan menyuruh Kejora untuk menikah dengan ayahnya. Itu bermula saat dia curhat dengan ayahnya pada suatu sore untuk membahas keinginannya yang ingin pergi merantau, sekaligus meminta pertimbangan ayahnya. Tak disangka obrolan sore itu menyebabkan ibunya sangat cemburu sampai mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang ibu pada anaknya. Dalam hati Kejora menangis karena tidak pernah hatinya sakit dan terluka separah ini. Kejora menyadari mungkin itu memang salahnya karena tidak mengajak ibunya berdiskusi saat itu dan Kejora menyesal karena dirinyalah tadi ayah menampar ibunya.

Keyakinan Kejora untuk merantau semakin bulat dan kokoh. Ditambah lagi Kejora selalu disumpahi ibu dengan kata-kata kotor dan tak pantas. Kejora mantap pergi naik pesawat ke luar daerah yang jauh dari kampungnya. Dalam duduk dengan pandangan jauh ke depan memandang awan yang berarak-arak dari dalam pesawat, air mata Kejora tumpah tak terbendung lagi. Dalam tangis dan deraian air matanya  dia bertanya dalam hati ;

"Ibu, aku ini anak siapa? kalau aku anak ibu, kenapa ibu begini padaku? ibu lebih sayang Mentari, ibu lebih mengutamakan anak-anak lelaki ibu dari pada aku. Bukankah aku ini anak kandung ibu dan ayah? bukankan akulah anak perempuan ibu satu-satunya? jika iya? kenapa ibu tega menyakitiku seperti ini? Aku sayang ibu, aku ingin dipeluk ibu seperti yang biasa ibu lakukan pada Mentari. Aku ingin becerita, bercanda dan tertawa bersamamu seperti Mentari sering tertawa denganmu. Maafkan jika Kejora harus pergi dan meninggalkan ibu. Maafkan jika kepergianku membuat ibu harus mengerjakan pekerjaan rumah yang selama ini kukerjakan. Satu hal yang ibu harus tahu, aku sangat mencintaimu"

"Ya Allah ampunilah ibuku, jadikanlah deritaku ini sebagai pengikis dosa-dosaku. Mungkin sakit ini tidaklah seberapa dibanding kasih sayang ibu selama merawatku dari dalam kandungan sampai aku dewasa seperti sekarang. Berikanlah kekuatan padaku dan tunjukkan aku jalan keluar dari semua ujianMu ini, Aamiin..."      

Bagaimana nasib Kejora selanjutnya? Tunggu kisah berikutnya ya...


puji saputri

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.