Langsung ke konten utama

Sudah Benarkah Kita Mendidik Dan Membesarkan Anak-Anak Kita?

.liayunik.com
YUK PARA ORANG TUA, KITA BERBENAH

Manusia berkarakter semakin lama semakin langka kita temukan. Dan untuk beberapa tahun ke depan, anak-anak kitalah yang akan hidup di masa nanti. Bagaimana kita akan membentuk anak kita menjadi manusia yang berkarakter baik jika kita sebagai orang tuanya tidak mendidik mereka dengan baik. Sekarang saja sudah banyak kita temui anak muda dan remaja berkelakuan buruk, padahal orang tuanya sudah mendidiknya dengan menyekolahkan di sekolah terbaik sampai perguruan tinggi. Papa saya sering mengatakan "Anak zaman sekarang semakin berpendidikan semakin seperti tak berpendidikan. Semakin tinggi sekolahnya malah semakin tak punya iman dan moral".

Kenapa bisa timbul pemikiran seperti itu? tentu ada sebabnya.

Setuju atau tidak memang kita sudah banyak menemukan hal-hal yang membuat kita bertanya, apakah orang tuanya tidak mendidik anaknya dengan baik? Memang tak dipungkiri, ada juga orang tua yang berhasil membentuk kepribadian anaknya menjadi anak-anak yang berkarakter baik dan sesuai dengan apa yang kebanyakan orang tua harapkan. 

Tapi sebelum kita bicara soal karakter anak orang lain, anak kita dulu yang kita benahi. 

Manusia yang berkarakter itu mampu merasakan bahwa kekerasan dan kekejaman adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Dari usia 8 tahun seharusnya anak sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga nanti dia akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa diandalkan dan dapat menentukan pilihan yang terbaik untuk hidupnya sendiri meski tidak sedang bersama kita. Mengingat kini penggunaan obat-obat terlarang, perkelahian remaja, dan seabreg kenakalan lainnya telah menjadi masalah yang sulit untuk ditanggulangi. 

Sebelum memvonis dan menjatuhkan hukuman kepada anak yang bermasalah itu, mari kita
bercermin, tanyakan pada diri kita sendiri apakah selama ini kita sudah benar dalam mendidik anak kita? Apakah kita sudah benar dalam mendukung, mendidik dan membimbing mereka dengan sebaik-baiknya? Karena jika kita asal menghukum anak, maka nanti akan menjadi bumerang untuk kita sendiri.    

Ada 10 langkah yang bisa kita terapkan untuk mengatasi masalah emosi dan perilaku anak serta remaja, yang dapat kita mulai dari keluarga.
  1. Besarkan anak dalam kasih sayang dan cinta yang tulus.
  2. Jaga keharmonisan dan keutuhan pernikahan, sehingga anak terus memperoleh contoh yang baik dan merasa kita adalah sosok yang pantas untuk dicontoh.
  3. Jadilah pendengar yang baik untuk anak setiap dia mengemukakan sesuatu.
  4. Usahakan semaksimal mungkin untuk mendampingi anak meskipun sedang sibuk.
  5. Jadilah teladan yang baik dengan menunjukkan sikap peduli dan protek terhadapnya.
  6. Ajarkan anak untuk memiliki kepekaan dan hati nurani.
  7. Biarkan anak tetap tumbuh dengan sewajarnya dan jaga kualitas komunikasi, termasuk kejujuran dan keterbukaan.
  8. Tanamkan nilai-nilai yang luhur dan berikan contoh yang baik.
  9. Jadikan pengasuh dan pendidiknya sebagai mitra dalam menyeimbangkan pola asuh antara di rumah, di sekolah, dan lembaga lainnya.
  10. Jangan membanjiri anak dengan gaya hidup mewah, yang serba instan dan berlebihan.  
Semoga kita bisa memiliki anak-anak yang berkepribadian soleh dan solehah. Aamiin


puji saputri

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.