Langsung ke konten utama

11 Jebakan 'Batman' Penghancur Perkawinan

Siapa yang tak ingin hidup damai dan adem bersama pasangan dalam sebuah pernikahan? Kita semua pasti menginginkannya. Selalu senang dan bahagia dalam pernikahan untuk waktu yang lama, bahkan seumur hidup. Tanpa kita sadari kadang kita terjebak dalam aktivitas sehari-hari. Tapi tentunya bukan jebakan 'Batman' yang sesungguhnya ya... Jebakan itu bisa berasal dari dalam dan dari luar lo. Dari dalam bisa karena kekerasan dalam perkawinan baik fisik ataupun lisan dan dari luar bisa berasal dari perselingkuhan. Selain itu apa lagi ya?
Berdasarkan kejadian yang saya temui termasuk dari pengalaman saya sendiri dan beberapa orang, setelah membaca banyak buku, saya akan merangkumnya di sini. Dan akhirnya jadilah,,, yuk disimak.

Ada 11 macam lo jebakan-jebakan penghancur dalam perkawinan.

1. Terjebak dengan rutinitas.
Jangan bersikap terlalu sensitif atau hipersensitif terhadap perbedaan yang kecil. Jangan langsung marah dan berteriak untuk hal-hal yang sepele. Berpikir positiflah terhadap perkataan orang lain, jangan meresponnya langsung dengan interpretasi diri sendiri. Usahakanlah untuk lebih sabar, menahan diri, mengesampingkan sikap suka bertengkar dan otoriter. Hindari pertengkaran dan sifat yang suka membesar-besarkan masalah. Sikap yang terlalu agresif dan kekerasan verbal adalah yang paling utama dalam hancurnya perkawinan.

2. Terjebak oleh waktu.
Akibat rutinitas yang bejibun banyaknya, pasangan suami istri sering lupa untuk memberikan ciuman di akhir hubungan intim. Tak lagi ada waktu untuk saling memuji, berpelukan dan mengungkapkan kata cinta. Sehingga pelukan yang dulu sering kini hanya didapat di kala sedang bersenang saja. Frekuensi bercinta juga semakin berkurang dan singkat. Padahal terburu-buru dalam melakukan hubungan intim justru akan menimbun ketegangan dan untuk sebuah hubungan intim yang mesra tentu butuh banyak waktu kan? Jadi jangan tergesa-gesa dalam bercinta ya...

3. Terjebak pesona orang lain.
Untuk membangkitkan kembali hasrat pasangan nggak ada salahnya kan kalau kita mempercantik diri di depan pasangan. Menghargai pasangan bisa dimulai dari cara kita menghargai diri sendiri. Tampil rapi dan wangi di depan pasangan, menjaga berat badan dan menjaga kebersihan diri dapat menunjukkan bahwa kehadiran pasangan sangat berarti bagi kita. Tapi tidak hanya bagi istri lo, bagi suami juga, dengan menggandeng tangan istri dapat membuat istri merasa bahagia dan juga merasa dirinya masih pantas untuk dibanggakan. Rasanya tidak adil jika suami menuntut istri tampil cantik di depan suami tapi si suami hanya memakai celana pendek, celana training atau yang lebih parah memakai sarung saja selama di rumah bersama istri. Istri juga ingin suami berpenampilan gagah menawan dihadapannya. Sikap acuh-tak acuh dapat membuat kita menduga-duga bahwa kita tak lagi berarti baginya. Sepertinya terlalu naif jika hanya tampil apa adanya dan sudah merasa yakin saja bahwa dengan menikah dan punya anak akan membuat pasangan setia selamanya. Apalagi dengan kerasnya kehidupan sekarang ini yang mana ketertarikan pesona orang lain tidak hanya timbul dari niat diri sendiri tapi juga dari sejauh mana godaan itu muncul dari orang lain. Jangan sampai pasangan lebih tertarik dengan orang di luar sana ya...

4. Terjebak dalam perhatian.
Yang dimaksud di sini bukan perhatian dan kasih sayang yang lembut pada pasangan lo, tapi perhatian yang berlebihan atau possessive. Menikah bukan berarti salah satu pasangan harus mengalah dan menuruti keinginan dan permintaan yang lain. Tidak juga terlalu mengawasi apapun kegiatan dan keberadaan pasangan. Pernikahan seperti ini akan membuat hidup menjadi tegang, tertutup, menyimpan perasaan, pendapat, dan pemikiran hanya untuk diri sendiri. Alangkah baiknya memberi kepercayaan dan tidak mengekangnya. Saling berbagi baik dalam hal aktivitas di rumah, kerjaan dan anak-anak. Karena menikah itu hidup bersama pasangan bukan hidup untuk pasangan.

5. Terjebak dengan dunianya sendiri.
Banyak dari pasangan yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri, padahal mereka satu rumah, satu meja makan, satu kamar bahkan satu ranjang. Tapi tidak terjalin komunikasi yang baik antar keduanya. Asyik dengan gadget masing-masing, memikirkan karir beserta kekhawatiran dan kesenangannya masing-masing. Sehingga mereka lupa untuk saling menatap, saling bertanya, saling menyapa, saling bicara, lalu apa yang dapat dikatakan jika hubungan sudah jauh dan dingin seperti itu? Ada baiknya lupakan urusan kerjaan saat bersama pasangan, manfaatkan waktu bersama untuk menghangatkan hubungan dengan mesra.

6. Terjebak dalam kata "sudahlah, tidak apa-apa"
Saat pasangan tidak merasa keberatan akan sikap dan perlakuan kita, atau saat dia diam saja menghadapi sebuah ketidakadilan dari keputusan kita, hati kita mengatakan "tidak apa-apa kok, dia tidak keberatan". Itu sama artinya kita membiarkan segala wujud 'ngalah' tadi sebagai bom waktu yang siap meledak suatu saat nanti. Alangkah lebih baik berdiskusi bersama untuk mencapai sebuah kesepakatan yang membahagiakan untuk dijalankan bersama. Pupuklah rasa cinta dengan kasih sayang dan kelembutan termasuk sentuhan-sentuhan yang menyenangkan. Kejutan-kejutan yang tak terduga bisa mengurangi kebosanan.

7. Terjebak dalam obrolan yang menyakitkan.
Saat menikah dan menemukan bahwa pernikahan yang dialami tidak sesuai dengan harapan. tak jarang salah satu pasangan mengungkapkan ketidakpuasannya kepada yang lainnya. "Lihat si anu, dia romantis setiap hari", "Coba kamu seperti si A yang selalu bisa diandalkan" tanpa disadari si Anu dan si A yang dimaksud adalah mantan kita. Berhentilah membandingkan, karena tidak ada manusia yang sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihan pada diri pasangan masing-masing. Kalaupun membuat kita harus membandingkan, lakukan hanya untuk perbandingan yang positif di posisi kita saja atau lebih baik diam dan simpan saja semua rasa kepahitan dan kecewa itu sendirian. 

8. Terjebak dengan "Siapa prioritas yang utama?"
Biasanya ini banyak dilakukan para suami, Hidup memang perlu bekerja untuk mencari nafkah, tapi hidup bukan untuk kerja. Berikan waktu khusus untuk mendampingi pasangan dan keluarga. tunjukkan bahwa keluarga itu lebih penting. Berikan tempat untuk keluarga dalam hidup ini. Keluarga memang butuh uang, tapi punya banyak uang tanpa keluarga rasanya sia-sia saja.

9. Terjebak bisikan tetangga.
Jangan mudah tersulut api cemburu saat mendengar ada tetangga atau rekan kerja yang mengagumi pasangan kita, bisa jadi karena kecantikannya, kegantengannya, kepandaiannya atau kesuksesannya. Bagi istri jangan lantas memarahi suami hanya karena suami melirik wanita lain. Melirik bukan berarti selingkuh kan? Sepertinya laki-laki memang tidak bisa dipisahkan dari hal yang satu ini, apalagi jika wanita itu sangat cantik, rasanya sudah menjadi naluri laki-laki ya,,, itu wajar saja asalkan jangan sampai dia terang-terangan memuji dan mengagumi wanita lain. Suami juga jangan marah saat istri dilirik orang lain. Sebaiknya tersenyumlah dan anggap itu penghargaan tambahan terhadap pilihan kita yang tak salah untuk menikahinya. Percaya bahwa pasangan tidak akan melakukan hal-hal yang seburuk itu karena yakin akan adanya cinta yang dipupuk dengan luar biasa dari keduanya. 

10. Terjebak dengan melibatkan anak.
Semua rumah tangga seharmonis apapun pasti pernah bertengkar, cuma caranya yang berbeda-beda. ada yang lembut, ada yang kasar, ada yang hanya bertengkar dalam diam, ada yang teriak hingga satu komplek tahu. Banyak pasangan yang sering bertengkar di depan anak. Sehingga tanpa disadari orang tua membuat anak membangun sedikit demi sedikit tembok ketidakmengertian, tidak cinta, dan benci pada orang tuanya. Apalagi jika pertengkaran itu melibatkan fisik yang menyakiti tubuh ibunya, sehingga dia melihat ibunya menangis dan menderita. Alangkah baiknya jika bertengkar, jangan libatkan anak-anak, karena secara tidak langsung semua fakta, situasi, asal usul dan motif pertengkaran itu sering tidak dipahami anak-anak. Apalagi jika orang tua secara tidak langsung menjelekkan salah satu orang tuanya. Jika anak diminta untuk menjadi saksi, bagaimana mungkin anak bisa memberikan penilaian yang jelas?.             

11. Terjebak dengan curhat pada keluarga.
Awalnya bercerita karena ingin mengurangi uneg-uneg tapi lama-kelamaan jatuh menjadi pengaduan. Sebagai keluarga besar tentu tak ingin anak/adik/kakaknya menderita dalam pernikahannya. tak jarang keluarga besar memberi nasehat untuk kelangsungan perkawinannya. Tapi jika nasehat dan saran itu lebih mendominasi ke sebelah pihak maka tak jarang pernikahan akan berakhir dengan kehancuran. Ada baiknya jangan mengadukan hal apapun kepada keluarga besar. Biarkan masalah rumah tangga kita, kita sendiri yang menyelesaikan dengan cara kita sendiri. Jangan pernah libatkan orang ketiga walaupun hanya keluarga. Sekecil atau sesepele apapun masalah yang dihadapi dalam rumah tangga kita, jangan pernah  mengungkapkannya keluar. 

Rumah tangga ibarat kapal yang berlayar di lautan, suami nahkodanya dan istri kaptennya. Antara nahkoda sama kapten apa bedanya ya? kayaknya sama aja deh, tapi kalau ada yang tidak terima boleh dibalik kok, suami kapten, istri nahkodanya hehe... (kalau ada yang salah, koreksi yak). Nahkoda mengendalikan dan kapten memberitahu aba-aba kepada nahkoda akan kemungkinan yang terjadi selama di perjalanan, baik dari arah kiri, kanan maupun belakang kapal. Nahkoda dan kapten sama-sama punya tugas dan tanggungjawab terhadap kelestarian sebuah perkawinan. 

Agar kapal dapat berjalan dengan baik perlu dipersiapkan :
  1. Kapal yang kokoh. (Landasan dan komitmen).
  2. Mesin yang baik. (Hati).
  3. Bahan bakar yang cukup dan memadai. (Akhlak).
  4. Peta atau kompas sebagai arah tujuan agar tidak tersesat. (Al-Quran dan hadist).
  5. Peralatan yang baik untuk antisipasi akan adanya badai yang menghadang. (Nasehat, saran).
  6. Bekal yang cukup selama dalam perjalanan. (Usaha dan doa).
  7. Nahkoda yang cerdas, lihai dan memiliki strategi yang baik dalam mengemudikan kapal. 

Nahkoda dan kapten adalah suatu kesatuan dan kekuatan. Nahkoda tidak bisa jalan sendiri tanpa kerjasama kapten. Kapten juga tidak bisa memberi pengaruh apa-apa jika tak bekerjasama dengan nahkodanya. Nahkoda dan kapten tak bisa dipisahkan, Saat nahkoda tak mampu mengemudikan kapal sendirian untuk menghadapi badai yang menghantam maka kapten ikut membantu agar kapal tetap berjalan dan tidak oleng ke sana kemari.

Dalam perjalanan, kita tidak pernah mengira akan datangnya gelombang pada waktu apapun dan dari arah manapun. Cuaca yang tadinya cerah dan bersahabat tiba-tiba jadi hujan dengan angin badai dan petir yang menyambar. Kita harus siap untuk mengantisipasi setiap perubahan agar kapal tidak terombang-ambing oleh ganasnya gelombang lautan.

Nah, itu tadi jebakan-jebakan yang bisa menghancurkan pernikahan. Persiapkanlah pernikahan sebaik-baiknya agar meraih pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah. Pertahankanlah pernikahan dengan segenap jiwa dan raga. Demi satu tujuan bersama yaitu mencapai ridho Illahi. 

Semoga bermanfaat ya...


pujisaputri
photo by : liputan6.com

Komentar

  1. thanks sharingnya mba..berumah tangga itu mmg perlu komitmen...kalau goyah dikit aja..hadeeh ga tau deh....saya juga mengalami hal2 yg spt yg mba sebutkan..tp kembali lagi kepada komitmen..jd moga tetap langgeng selamanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak, Semoga langgeng selamanya ya...

      Hapus
  2. Nice share, mbak. Makasih banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi kembali mbak,,, semoga bermanfaat ya,,,

      Hapus
  3. Bener mbak..banyak jebakan dalam berumah tangga. Kalau pasangan tidak menjaga bisa hancur dan hambar...Salam sayang mbak Puji :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kita mesti hati-hati ya, terima kasih dan salam sayang kembali mbak dewi :)

      Hapus

Posting Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.