Langsung ke konten utama

Jika Anak Memiliki Self-Esteem Yang Rendah

Ada nggak sih ibu-ibu muda seperti saya yang kewalahan memahami anaknya yang tak pernah mau berbaur dengan teman sekitarnya. Yang dia seret-seret saat bermain hanya saya. Padahal sudah ditekankan agar dia bermain dengan temannya. Tapi tetap saja saya harus duduk di atas ayunan bersama dia. Kadang sedih juga sih melihat anak di kelas sedang belajar, saat bu guru meminta anak-anak untuk mengacungkan tangan bagi siapa yang pandai menggambar, anak saya hanya diam saja di bangku kelas sementara anak-anak yang lain sudah rebutan daftar untuk mendapatkan kertas dan krayon. Anak saya bukan tidak pandai menggambar hanya dia tidak mau ikut-ikutan aktif seperti yang lain. Berharap bu guru datang ke mejanya untuk memberinya kertas dan krayon.


Memang sih, dalam hidup ini anak lahir dalam bermacam-macam tipe dan karakternya masing-masing. Intinya setiap anak itu unik. Ada anak yang tingkat kepercayaannya tinggi sehingga dia mampu mengungkapkan perasaan dan apapun tanpa rasa minder. Mampu beradaptasi dengan mudah dan punya banyak teman. Ada juga anak yang pemalu sehingga ketika diminta untuk mengajukan pendapat dia akan memilih untuk diam atau bersembunyi di balik tembok. Kedua tipe anak ini ada pada anak-anak saya. Anak saya yang besar lebih pendiam dan suka memilih dalam bergaul. Dia kurang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Dia tidak bisa bekerja dalam tim. Keakuannya lebih mendominasi, mungkin karena dia terlalu lama mendapat adik. Selama ini dia terbiasa melakukan apa-apa sendiri dan canggung saat harus berbagi dengan si adik. Anak saya yang bungsu justru lebih ramah dan komunikatif.


Di sini saya akan membahas anak yang memiliki self-esteem (harga diri) yang rendah. Menurut Blazelton, self-esteem yang rendah pada anak sudah bisa dilihat ketika dia berumur 8 atau 9 bulan. 

Misalkan : Saat anak di beri mainan dan kita memintanya untuk menggoyangkan mainan itu seperti yang kita contohkan. Anak tidak mau melakukannya dan malah mengalihkan perhatiannya kepada hal lain. Seolah dia mengatakan bahwa "Aku tidak bisa melakukan itu." Belum apa-apa anak sudah merasa kalah duluan.

Kenapa ya? ah nggak apa-apa kali, mungkin dia lebih tertarik dengan mainan lain. Memang kalau dilihat sepintas hal itu sangat biasa kan, tapi sebenarnya hal itu tidak boleh dibiarkan karena bisa memperparah self-esteemnya lo,,, Apa hubungannya? ada, mungkin dulu kita cukup sering membantunya dalam melakukan apapun sehingga dia tidak percaya lagi pada kemampuan yang dimilikinya. Atau mungkin kita jarang memberinya dorongan atau semangat "Ayo nak, kamu bisa." Bisa juga disebabkan karena ada masalah pada psikomotornya atau kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tuanya.

Untuk itu sebagai orang tua kita harus terus memberi semangat pada anak agar dia mampu menimbulkan kembali rasa percaya dirinya. Karena itu adalah modal yang penting juga untuk dia saat dewasa nanti. Nggak mau kan bakat anak jadi terpendam sehingga dia tertinggal dari temannya yang berani dan percaya diri. Lagipula kita juga tidak selamanya akan mendampingi anak. Ada kalanya anak harus mengurus dan memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kasihan juga bila anak dikucilkan teman-temannya lantaran sikapnya yang kasar dan suka memukul. Saya ada beberapa tips ni buat ibu-ibu yang punya rasa kekhawatiran yang sama seperti saya.

Anak yang mempunyai self-esteem yang rendah biasanya tidak pandai bergaul. Jika dia sedang bermain dengan temannya maka dia sering mengambil mainan temannya atau merebutnya bahkan ada juga yang berani memukul atau menggigit temannya sendiri. Sebagai ibu, jangan biarkan hal itu terjadi, sebaiknya gendong, peluk dan bujuk anak kita dan katakan padanya bahwa temannya tidak suka diperlakukan begitu, sama seperti dirinya yang juga tidak mau diperlakukan seperti itu oleh temannya.

Untuk anak yang penakut, pelan-pelan ajak dia untuk memeriksa bawah kolong kasur atau ajak dia untuk mengenal sesuatu yang dia takuti itu. Jika dia takut kucing, ambil tangannya pelan-pelan untuk menyentuh kucing dan katakan "nggak apa-apa kan?." Seperti anak saya yang takut suara hujan yang jatuh di atas genteng. Maka saya ajak dia untuk merasakan derasnya rintikan hujan yang jatuh dari atas genteng dan dia merasakan sensasi air hujan itu. Saya puji dia "Nggak takut lagi kan, kamu hebat deh"


Untuk anak yang tak pandai berteman atau minderan, carikan dia seorang teman yang bisa untuk dia ajak berdiskusi bersama, bisa sepupu atau tetangga. Ajak mereka untuk menyelesaikan sebuah permainan secara bersama. Biarkan mereka berinteraksi dengan caranya sendiri sambil terus diawasi dan diarahkan. Jaga-jaga agar anak tidak saling pukul atau saling tarik.

Jika anak minder karena sering diejek teman, katakan bahwa semua anak memang suka mengejek, anak baik juga selalu di ejek, bunda juga dulu sering di ejek tapi bunda biarin aja, lama-lama mereka berhenti sendiri dan tidak pernah lagi mengejek. Jika anak stress karena nilai raportnya jelek, katakan bahwa dia sudah berusaha sekuat tenaga dan bunda yakin suatu saat nanti dengan terus rajin belajar kamu akan mendapat nilai yang bagus.

Intinya, hanya dukungan kita sebagai orang tua yang dibutuhkan anak. Perlahan tapi pasti dan tetap konsisten untuk terus memberi semangat. Arahkan dengan memberikan contoh secara langsung. Maka suatu hari nanti anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki self-esteem yang baik.

Saya juga lagi belajar untuk menyemangati anak saya yang sulung. Sifatnya yang tertutup dan tak pandai bergaul juga tak pernah mau mengungkapkan isi hatinya membuat saya harus kerja keras. Saya coba dengan menyuruhnya untuk menulis di kertas apa-apa yang dia rasakan dan saya suruh untuk menempelnya di papan suara hati yang saya pasang di dinding kamarnya. Saya baca tulisannya dan saat pulang sekolah saya ajak dia mendiskusikan pendapat saya dengan apa yang dia mau. Saya ajak bicara dari hati ke hati agar dia mau bicara secara terbuka. Saya tanamkan padanya bahwa mengungkapkan pendapat itu tidak salah. Berbeda pendapat itu biasa jadi jangan takut untuk berpendapat.

Tapi jangan salah lo, anak-anak yang kurang bergaul dan pendiam ini terkadang punya kelebihan yang luar biasa tanpa kita duga. Terkadang dia mampu menghasilkan sebuah karya yang selama ini dia pendam. Namun jika kita bisa membentuk anak menjadi pribadi yang baik dan seimbang dengan self-esteem yang baik, kenapa tidak?


Baca juga : Bagaimana cara mengembangkan self-esteem pada anak sejak dini.



puji saputri
photo1 by : kesekolah.com
photo2 by : nugrohohipnosis.blogspot.com   

Komentar

Populer

Jeritan Hati Seorang Janda

Setiap manusia punya masa lalu, ntah itu baik atau buruk, apapun itu semua merupakan jalan kehidupan yang harus dilalui dan dijalani oleh manusia. Dan apapun yang manusia hadapi semua adalah jalan terbaik baginya. Mungkin tak baik bagi manusia tapi baik menurut Allah. Baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah.
Setiap manusia sudah ada jalan kehidupannya sendiri, garis nasib manusia baik untuk urusan kematian, rejeki, bahkan jodoh sudah ditentukan sejak masih di dalam kandungan ibunya. Ada yang dijodohkan dengan orang kaya, orang biasa, bangsawan, janda dan duda. Tak ada yang bisa melawan takdir. Manusia Diciptakan hanya untuk menjalankan skenario yang telah ditetapkan Tuhan.

Wahai Para Suami, Jangan Pisahkan Istrimu Dari Orangtuanya

Taat kepada suami setelah menikah adalah surga bagi istri. Karena surga dan neraka istri adalah suaminya. Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, taat dan patuh pada suami lebih utama dibanding taat pada orangtua.

Penyesalan Seorang Suami Yang Telah Menyia-nyiakan Istri Dan Anak-Anaknya

Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, kalau datangnya di awal itu namanya pendaftaran, hehe... pernah dengar kan tentang kata itu? Bicara soal penyesalan ya memang nggak ada habisnya. Apalagi jika kita sedang sendiri lalu teringat kenangan masa lalu tentang seseorang yang sangat kita sayangi dan cintai dengan setulus hati.
Di saat penyesalan itu datang yang ada hanyalah duka yang teramat dalam dan sangat menyesakkan dada. Ingin rasanya untuk mengulang kembali sejarah masa lalu itu dengan tekad ingin memperbaiki semua. Namun apa daya dia telah pergi dan sudah bukan milik kita lagi.

Kisah Nyata yang Sedih dan Mengharukan 'Tragedi di Malam Pertama'

Dulu ketika masih remaja, di saat gejolak jiwa anak muda masih menguasai hati dan pikirannya, paling pantang jika diharuskan untuk nurut kata orang tua. Masih ingin melakukan ini dan itu tanpa kekangan siapapun. Meski sebenarnya dia bukan anak yang nakal. Tapi ya... namanya juga anak muda gitu lo... Meskipun secara fisik terlihat pendiam dan penurut. Kenyataanyapun anak muda itu juga tidak lepas dari pantauan orang tuanya.
Dia gadis yang lugu, manis, berwajah melankolis, pandai namun agak kurang suka bergaul dengan sembarang orang. Dia lebih suka di rumah membaca buku, menulis, dan belajar.

Ketika Saya Mengalami Morning Sickness

Ketika seorang perempuan dewasa memutuskan menikah, rasanya sangat bahagia sekali. Itu artinya seorang perempuan harus menyiapkan mental menjadi seorang istri. Dimana setiap pekerjaan apapun yang dilakukan istri untuk suami dan keluarganya dihitung amal ibadah kebaikan. Dan ketika seorang istri mengetahui dirinya hamil, maka mulai detik itu juga seorang perempuan juga harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu.  dan pahala kebaikan demi kebaikan akan terus mengalir jika ikhlas menjalaninya.
Alangkah bahagianya jika melewati moment kehamilan dengan lancar dan menyenangkan. Namun bagaimana jika perempuan, tepatnya calon ibu harus mengalami mual dan muntah yang terus menerus dan membuat moment kehamilan terasa seperti perjuangan yang berat baik bagi si calon baby maupun bagi calon ibu. Atau yang lebih dikenal dengan 'Morning sickness'.